AWAS KEBANGKITAN NEO PKI

Posted: 1 Oktober 2015 in Umum

IMAM YUDHIANTO, SH, MM (Pengamat Komunisme – Aktivis Pemuda Muhammadiyah Magetan)

wpid-img-20160506-wa0094.jpgKomunis real is comeback. Komunis nyata sudah kembali. Demikianlah sebuah kalimat sederhana agar mudah difahami oleh warga Indonesia, bahwa ancaman hadirnya gerakan komunis bukanlah sebuah halusinasi belaka, akan tetapi sebuah kenyataan yang ada di depan mata kita.

Sejak awal Kemerdekaan, PKI telah melakukan serangkaian pembantaian di banyak wilayah RI. Mereka tidak segan membunuh untuk merebut kekuasaan. Bukti-bukti otentik kekejaman PKI sesungguhnya sudah tidak terbantahkan. Inilah sejarah kelam Komunisme di Indonesia.

Perjalanan sejarah ideologi Komunis di dunia telah membuktikan selalu melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ideologi yang dikembangkan Karl Mark, Lenin, Stalin, Mao, telah membanjiri jagat raya dengan darah. Buku Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba yang ditulis Taufiq Ismail, menyebutkan setidaknya 100 juta orang lebih dibantai termasuk di Indonesia oleh rejim Komunis dan orang-orang Partai Komunis di Dunia.

palu-arit-putri-indonesia-2015.jpgIdeologi Komunis selalu pada intinya anti Hak Asasi Manusia, anti Demokrasi, dan anti Tuhan. Sebab itu, menjadi ironi apabila masih banyak ”orang dan kelompok masyarakat” yang masih menginginkan paham Komunis berkembang di Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966, namun benarkah PKI sudah mati? Pada masa reformasi pada kenyataannya, para kader PKI dan para simpatisannya berusaha keras memutar-balikan fakta atas segala pelanggaran Hak Asasi Manusia yang telah dilakukan sepanjang sejarahnya di Indonesia.

Dengan dalih ”meluruskan sejarah” mereka membanjiri toko-tokoh buku dengan berbagai jenis buku untuk memutarbalikkan fakta sejarah. Tidak hanya itu, para penggiat Komunisme melakukan provokasi melalui media massa cetak, stasiun televisi, internet, film, musik, diskusi-diskusi, tuntutan hukum, politik, dan selebaran-selebaran -yang pada intinya menempatkan orang-orang PKI dan organisasi sayapnya seperti Gerwani, Pemuda Rakyat, LEKRA, CGMNI, BTI, SOBSI, dan lain-lain, sebagai korban.

510064_620.jpgPadahal, sangat jelas sejak berdiri di Indonesia, Partai Komunis Indonesia telah ”membokong” perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan, Kedaulatan, Kesejahteraan, dan Keadilan Sosial di Republik Indonesia. Lalu mereka menuntut pemerintah meminta maaf kepada mereka.

Berkat perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’alaa Ilah Yang Esa, paham Komunis beserta Partai Komunis Indonesia telah gagal total dalam mencengkeramkan kekuasaannya.

Tetapi, pada akhir-akhir ini seiring dengan kemenangan Jokowi-JK, kini generasi penerus PKI terus berupaya melakukan penyusupan dan mendompleng Partai-partai berkuasa guna menyusun kembali kekuatannya yang telah porak poranda, dan mereka kini bermetamorfosa menjadi gerakan KGB (Komunisme Gaya Baru). Ya kini Komunisme telah kembali mengancam NKRI. Kita dapat merasakan kentalnya keberpihakan kepada Komunis dalam kebijakan-kebijakan Jokowi-JK. Lihatlah kini betapa mesranya hubungan Jakarta-Beijing.

Data dan fakta telah banyak menunjukan bahwa mereka kaum komunis benar-benar ingin memulai menjalankan semua program yang dulu terhenti. Kini para gembong Partai Komunis (PKI) banyak berkeliaran di mana-mana. Pertemuan demi pertemuan, hingga reuni akbar juga telah dilaksanakan untuk mengumpulkan tulang-tulang yang bercecer agar bersatu kembali. Bahaya bukan?

4-pemuda-pki.jpgKemerdekaan sebuah negara adalah nikmat terbesar karunia Allah yang tidak semua manusia dapat merasakannya. Berapa banyak ummat dan bangsa yang mendiami dunia ini semenjak dahulu hingga sekarang, tidak berhenti-henti bejuang hanyalah untuk sesuatu yang dinamakan kemerdekaan. Berjihad dan berkorban dengan jiwa dan raga untuk memerdekakan negara dari belenggu penjajahan adalah di antara sifat-sifat yang mulia dan disanjung  tinggi oleh Islam. Umat islam bersama segenap komponen bangsa telah membuktikan perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan. Dengan Ridho Alloh Azza wa Jalla kemudian tetesan darah para syuhada’ dan para pejuang bangsa inilah maka kita dapat hidup di zaman ini dan merasakan hasil perjuangan mereka. Dalam rangka mensyukuri 70 tahun kemerdekaan Bangsa Indonesia dari cengkeram penjajah kolonial kafir asing sudah selayaknya bangsa Indonesia menegaskan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana pengakuan kemerdekaan bangsa ini pada tahun 1945 adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

islam-komunis-palu-arit-mojok.jpgImplementasi rasa syukur bangsa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa adalah dengan menegaskan keyakinan akan keberadaan dan kemahakuasaan Allah, Robb Yang Maha Esa dan Kuasa, yang berdaulat di seluruh langit dan bumi termasuk di atas bumi Indonesia dan di bawah langit Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya seluruh umat manusia yang pandai bersyukur kepada Allah yang telah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla,  dengan mengimani-Nya, mentauhidkan-Nya, dan mematuhi segala perintah/larangan-Nya.

Perjalanan perjuangan Kemerdekaan Indonesia memang tidak semulus yang dibayangkan, banyak torehan pahitnya sejarah kemerdekaan bangsa ini. Ketentraman bangsa Indonesia dalam menikmati kemerdekaannya, berkali kali harus tergores tajamnya pisau pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa oknum putra bangsa yang telah berubah pikir dalam cara pandang atau orientasi tujuan negara dan ideologi. Sebut saja PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan ciri gerakan sosial politik berazaskan ideologi komunisme yang berkiblat kepada rusia dan memiliki ajaran yang menentang keberadaan dan kemahamakuasaan Allah, sebagai satu satunya Ilah (sesembahan) Yang Esa.

PKI dalam lintasan sejarah terbentuknya NKRI dan perjalanannya hingga hari ini telah terbukti melakukan pengkhianatan dan upaya pemberontakan dalam rangka membentuk Negara komunis di Indonesia yang mengubah dasar Negara dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar kepercayaan ketiadaan Tuhan atau atheism. Dalam hal pengkhianatan terhadap NKRI, PKI telah melakukan serangkaian tindakan kekerasan dan pembunuhan kepada para alim ulama dan banyak aktivis Islam, mereka juga telah melakukan serangkaian pembantaian kepada rakyat sipil yang mencoba melakukan penentangan di beberapa wilayah RI. Mereka tidak segan membunuh untuk merebut kekuasaan. Bukti-bukti otentik kekejaman PKI sesungguhnya sudah tidak terbantahkan, dan menjadi bagian sejarah kelam Komunisme di Indonesia.

573440cc97987-stiker-bergambar-palu-arit-yang-menyebar-di-palembang-sumatera-selatan_641_452.JPGPerjalanan sejarah ideologi Komunis di dunia telah membuktikan selalu melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ideologi yang dikembangkan Karl Mark, Lenin, Stalin, Mao, telah membanjiri jagat raya dengan darah. Buku Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba yang ditulis Taufiq Ismail, menyebutkan setidaknya 100 juta orang lebih dibantai termasuk di Indonesia oleh rejim Komunis dan orang-orang Partai Komunis di Dunia. Ideologi Komunis selalu pada intinya anti Hak Asasi Manusia, anti Demokrasi, dan anti Tuhan. Sebab itu, menjadi ironi apabila masih banyak ”orang dan kelompok masyarakat” yang masih menginginkan paham Komunis berkembang di Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966, namun benarkah PKI sudah mati? Pada masa reformasi pada kenyataannya, para kader PKI dan para simpatisannya berusaha keras memutar-balikan fakta atas segala pelanggaran Hak Asasi Manusia yang telah dilakukan sepanjang sejarahnya di Indonesia.

Dengan dalih ”meluruskan sejarah” mereka membanjiri toko-tokoh buku dengan berbagai jenis buku untuk memutarbalikkan fakta sejarah. Tidak hanya itu, para penggiat Komunisme melakukan provokasi melalui media massa cetak, stasiun televisi, internet, film, musik, diskusi-diskusi, tuntutan hukum, politik, dan selebaran-selebaran -yang pada intinya menempatkan orang-orang PKI dan organisasi sayapnya seperti Gerwani, Pemuda Rakyat, LEKRA, CGMNI, BTI, SOBSI, dan lain-lain, sebagai korban.

Padahal, sangat jelas sejak berdiri di Indonesia, Partai Komunis Indonesia telah ”membokong” perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan, Kedaulatan, Kesejahteraan, dan Keadilan Sosial di Republik Indonesia. Lalu mereka menuntut pemerintah meminta maaf kepada mereka.

Ribka-Tjiptaning-Anak-PKI-di-PDIP.jpg

Berkat perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’alaa, Tuhan Yang Esa, paham Komunis beserta Partai Komunis Indonesia telah gagal total dalam mencengkeramkan kekuasaannya. Tetapi, pada akhir-akhir ini, generasi penerus PKI terus berupaya melakukan penyusupan dan mendompleng Partai-partai berkuasa guna menyusun kembali kekuatannya yang telah porak poranda, dan mereka kini bermetamorfosa menjadi gerakan KGB (Komunisme Gaya Baru).  Keberanian mereka nampak lebih fenomenal dengan bangganya mereka memakai pakaian dengan atribut bergambarkan “Palu Arit”. Yang memakai mulai dari kalangan petani, buruh pabrik, mahasiswa hingga kalangan selebritis, dan yang terakhir dihebohkan dengan baju bersimbolkan “palu arit” yang dikenakan oleh putri indonesia. Beberapa kalangan sudah tidak canggung lagi untuk membanggakan simbol simbol tersebut. Sampai sampai beberapa anggota parlemen politikus senayanpun menulis buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” , yang seakan menjadi pembenaran terhadap gerakan gerakan makar PKI kepada Negara dan Ummat Islam.

Jokowi-akan-minta-maaf-pada-keluarga-PKI.jpg

Disadari atau tidak Komunisme telah kembali mengancam NKRI. Kita dapat merasakan kentalnya keberpihakan kepada Komunis dalam kebijakan-kebijakan Pemerintah hari ini. Lihatlah kini betapa mesranya hubungan Jakarta-Beijing.

Para ulama mensinyalir terdapat upaya – upaya pemutarbalikan fakta yaitu dengan menjadikan PKI (Partai Komunis Indonesia) beserta anggota dan simpatisannya adalah merupakan korban kejahatan oleh Negara, TNI dan Umat Islam. Pandangan dan serbuan informasi yang memposisikan PKI beserta anggota dan simpatisan adalah korban telah disebarluaskan secara massif, sistematis dan terstruktur melalui berbagai sarana, mulai dari media massa, baik cetak maupun elektronik. Upaya rekonstruksi sejarah keganasan dan kebiadaban PKI ini, bahkan mulai masuk ke dalam kurikulum pendidikan dengan menghapus berbagai mata pelajaran yang menggambarkan kekejaman PKI. Saat ini, informasi yang disebarkan adalah seolah – olah PKI dan kaum komunis bersikap pasif dan hanya merupakan kambing hitam politik semata, tanpa menyebut satupun aksi – aksi sepihak dari PKI beserta simpatisannya dalam melakukan terror kepada rakyat Indonesia dan ulama. Agenda utama rekonstruksi sejarah dengan memposisikan PKI sebagai pelaku kejahatan menjadi seolah PKI korban kejahatan, adalah untuk melegalkan ideolog komunis berkembang di Indonesia dan membangkitkan kekuatan politik komunis baik dalam bentuk Partai maupun organisasi massa. Hal ini adalah tentu sangat membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

15e4bb65-dd23-4984-957a-b4f1dbb3e8fe_169.jpgBahkan ditemukan fakta, bahwa saat ini, para pendukung PKI beserta simpatisan dan keluarganya tengah melakukan konsolidasi kekuatan melalui berbagai cara dan sarana, yang diantaranya adalah melalui Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 (YPKP 65) maupun Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Yayasan komunis yang berkedok kemanusiaan ini jelas dan terang benderang memiliki agenda untuk merekonstruksi sejarah serta melakukan gerakan politik yang berbasiskan ideologi komunisme yang dikamuflase sebagai ideologi MDH (Materialisme Dialektika Historis), dan juga melakukan regenerasi dan kaderisasi guna menyebarluaskan ideologi komunisme dikalangan anak muda. Hal ini berarti kaum Komunis di Indonesia kembali menggunakan taktik gerakan bawah tanah atau kamuflase politik dalam menyebarkan Ideologi Komunis sekaligus membangun kekuatan politik melalui mantel kemanusiaan. Mereka juga berjuang keras untuk mencuci dosa sejarah PKI melalui pintu masuk atau menunggangi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, melalui sarana politik hukum ini, simpatisan PKI dan keluarganya serta kaum neo komunis, berusaha untuk memperoleh posisi politik serta melakukan politik balas dendam terhadap TNI dan umat Islam.

Dalam dokumen YPKP 65, jelas termuat agenda politik bahwa Komisi Kebenaran dan Rekonsialiasi ini adalah cara paling halus yang digunakan oleh eks anggota PKI, keluarga maupun simpatisannya guna menghidupkan kembali Ideologi komunis dan membangkitkan kembali PKI. Dengan menunggang agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ini kaum Komunis Indonesia tengah menampilkan Komunisme yang berwajah humanis untuk menarik simpati rakyat dan memanipulasi umat. Titik tolak kaum komunis dalam agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ini adalah semata – mata mengungkap peristiwa pasca pembunuhan 6 jenderal, tanpa mengungkap peristiwa tahun tahun sebelumnya, dimana PKI merajalela melakukan teror politik bahkan menbunuh rakyat, umat Islam dan Ulama serta lawan politiknya. Peristiwa pasca pembunuhan 6 Jenderal inilah yang menjadi tujuan kaum komunis untuk disebut sebagai “kebenaran” dengan mengabaikan kebenaran sejarah perilaku teror dan pembunuhan politik PKI beberapa tahun sebelumnya. Sementara istilah Rekonsiliasi yang dimaksud oleh kaum komunis Indonesia adalah diterimanya serta dilegalkannya ajaran komunisme serta diihidupkannya kembali Partai Politik Komunis di Indonesia.

maxresdefault.jpgGerakan mengembalikan ideologi komunisme dan pemutarbalikan sejarah ini memanfaatkan kelemahan pemerintahan saat ini, yaitu dengan memanfaatkan sindrom popular demokratik yang tengah menghinggapi para elit politik nasional. Pemanfaatan sindrom popular demokratik yang menjangkiti para elit politik saat ini sangat sejalan dengan agenda kaum komunis internasional yang tengah menjalankan taktik politik “Komunisme Popular Demokratik” untuk menyembunyikan watak dan karakter Totaliter dari idelogi komunis. Mereka berfikir dengan memanfaatkan rezim politik “ elektoral popular demokratik” saat ini, kaum komunis Indonesia dapat melakukan infiltrasi ke seluruh lini pemerintahan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, baik nasional maupun level politik elektoral lokal. Hal ini tentu saja akan menjadi bom waktu bagi masa depan politik Indonesia dan merupakan ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam jangka panjang.

Upaya – upaya eks anggota PKI maupun keluarganya beserta pengikut ideologi komunisme di Indonesia untuk ngotot memaksakan keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi melalui proses legislasi, hanya akan menguras energi bangsa dan menjebak kehidupan berbangsa dan bernegara kepada persoalan masa lalu yang akan menghalangi kemajuan kehidupan bangsa dan bernegara. Potensi gesekan antar komponen masyarakat maupun benturan fisik di level grass root akan membelenggu rakyat dari kemajuan dan kembali membuka luka lama umat Islam yang menjadi korban teror dan pembunuhan politik yang dilakukan oleh PKI.

partai-komunis-cina-_120629194824-947.jpg

Dalam sebuah buku saku berjudul Tiga Dusta Raksasa Palu Arit Indonesia: Jejak Sebuah Ideologi Bangkrut di Pentas Jagad Raya, (Jakarta: Titik Infinitum, 2007), Taufiq Ismail menyajikan data yang menarik. Taufiq menyatakan bahwa Komunisme adalah ideologi penindas dan penggali kuburan massal terbesar di dunia. Dalam mengeliminasi lawan politik, kaum komunis telah membantai 120 juta manusia, dari tahun 1917 sampai 1991. Itu sama dengan pembunuhan terhadap 187 nyawa per jam, atau satu nyawa setiap 20 detik. Itu dilakukan selama ¾ abad (sekitar 75 tahun) di 76 negara. Karl marx (1818-1883) pernah berkata: “Bila waktu kita tiba, kita tak akan menutup-nutupi terorisme kita.”

Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924) juga menyatakan: “Saya suka mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi sekarang ini, yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan darah.” Satu lagi tulisannya: “Tidak jadi soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”

Lenin bukan menggertak sambal. Semasa berkuasa (1917-1923) ia membantai setengah juta bangsanya sendiri. Dilanjut kan Joseph Stalin (1925-1953) yang menjagal 46 juta orang; ditiru Mao Tse Tung (RRC) 50 juta (1947-1976); Pol Pot (Kamboja) 2,5 juta jiwa (1975-1979) dan Najibullah (Afghanistan) 1,5 juta nyawa (1978-1987). Buku saku lain tentang komunis me yang ditulis oleh Taufiq Ismail adalah Komunisme=Narkoba dan Komunis Bakubunuh Komunis, serta Karl Marx, Tukang Ramal Sial yang Gagal (Jakarta: Infinitum, 2007).

Dari berbagai fakta singkat yang disebutkan di atas, sudah sepatutnya bangsa Indonesia mau belajar dari sejarah. Ketika agama dibuang; Tuhan disingkirkan, jadilah manusia laksana binatang. Anehnya, kini ada yang mulai berkampanye tentang perlunya “kebebasan beragama” harus mencakup juga “kebebasan untuk tidak beragama”. Dalam kondisi seperti ini, Islam (kaum muslimin) dan kekuatan anti-komunisme lainnya, diharapkan memainkan perannya yang signifikan. Jangan sampai elite-elite muslim lupa diri, sibuk memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya, sibuk saling caci dan jegal, di sisi lain tanpa sadar komunisme dalam “jubah barunya” semakin mendapat simpati masyarakat.  Na’udzubillahi min dzalik.

432596_620.jpg

Di momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2015 ini, kita harus tetap mawas diri terhadap bahaya laten Komunis PKI. Keberanian untuk menegakkan kebenaran sejarah kelam PKI harus tetap dibangkitkan. Penjagaan Aqidah generasi muslim dari berbagai penyimpangan ideologi dan pemikiran komunisme, harus terus digalakkan.

Dan sebagai umat yang beriman sudah semestinya kita terus bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan dan kebebasan beribadah sesuai dengan keyaqinan kita. Marilah kita ciptakan suasana kehidupan masyarakat yang bertaqwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar terbuka pintu-pintu keberkahan bagi kehidupan di negeri ini sebagaimana firman Allah Ta’alaa :“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS. Al A’raf 96).

Teruntai doa, semoga Negeri ini dan Umat Islam tetap dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan Allah Azza wa Jalla, tetap jaya dan menjadi baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s