RENUNGAN HARI GURU : Reposisi Strategis Guru Dalam Pendidikan Nasional

Posted: 25 November 2010 in Artikel

GURU memiliki posisi utama dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.Posisi utama GURU adalah sebagai penggerak dan eksekutor program peningkatan mutu pendidikan nasional. GURU menjalankan aktivitas kegiatan belajar-mengajar yang sesuai kerangka kurikulum pendidikan nasional. GURU juga menjadi pamong siswa dalam mengembangkan karakter sosiologis yang mandiri dan berintegritas.

Selama arus perubahan sosial paska Orba, kiprah guru sangat signifikan dalam mengembangkan prakarsa program pendidikan nasional. Banyak komunitas guru dan beberapa elemen organisasi guru, yang berjuang bagi peningkatan kesejahteraan guru secara subjektif dan peningkatan mutu pendidikan nasional.

Para Guru dan Organisasi guru tidak henti-hentinya berjuang dalam mendukung hadirnya UU Guru dan UU Sisdiknas yang memandatkan negara untuk memperhatikan kesejahteraan guru. Sehingga kini, melalui program sertifikasi guru para guru memperoleh imbalan yang layak sesuai standar pengabdiannya. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, para guru juga memiliki suara yang “tegas” dan inspiratif, Diantaranya beberapa elemen guru mendukung program peningkatan kualitas pendidikan yang berbasis kepentingan publik.

Organisasi guru seperti PGRI misalnya dengan aksinya selalu konsisten mengawal pemenuhan amanat Konsitusi dalam alokasi anggaran negara minimal 20 persen dari APBN. Kini setelah 40 tahun alokasi anggaran negara untuk sektor pendidikan mencapai angka 224 triliun. Meski item (komponen) gaji guru berstatus PNS masih masuk dalam alokasi anggaran tersebut. PGRI dan berbagai organisasi guru, juga saat ini aktif mengawal perumusan PP Guru dan menolak peleburan Ditjen PMPTK yang dianggap akan memundurkan program sertifikasi guru.

Peranan guru dan organisasi guru secara “social advocacy” boleh jadi bisa dianggap signifikan. Meski dalam kenyataan, masih ada kastanisasi eksistensi guru antara guru berstatus PNS dengan guru swasta. Secara makro kesejahteraan guru di Indonesia meningkat. Namun dalam fakta dilapangan kesejahteraan guru non PNS masih sangat minimalistik. Perhatian negara atas kesejahteraan guru swasta dari yayasan yang miskin sangat memprihatinkan. Gaji guru swasta dan tenaga honorer di banyak daerah bahkan jauh dibawah standar Upah Minimum Regional (UMR).

Diskrepansi standar kesejahteraan guru antara mereka yang berstatus “abdi negara” dan guru swasta dari yayasan miskin , seharusnya menjadi titik fokus perjuangan guru. secara umum. Organisasi guru mainstream seperti PGRI dan komunitas guru, harus berjuang bersama memperjuangkan hak sosial dan kebutuhan dasar guru tanpa membedakan status dan jabatan. Para guru saat ini juga memiliki hak sipil-politik yang memadai. Banyak komunitas guru yang aktif mendirikan organisasi guru independen serta aktif dalam kegiatan politik kerakyatan.

Guru-guru sekarang juga semakin bergiat dalam berbagai aktifitas peningkatan mutu pribadi dengan membangun jejaring guru kreatif yang cerdas. Guru saat ini berbeda dengan guru dizaman Orba, yang terjerat dalam monoloyalitas korps dan dimobilisasi untuk kepentingan status quo. Di masa lalu guru dijadikan agen proyek pembangunan dan menjadi bagian dari robot kurikulum. Hadiahnya para guru dianugerahi gelar pahlawan tanpa tanda jasa dalam label Mitologisasi (Ari kristianawati 2005:16).

Para Guru saat ini memegang potensi untuk berperan lebih dalam mempengaruhi kebijakan politik pendidikan.Ada beberapa peran guru dan organisasi guru dalam kerangka peningkatan kualitas pendidikan nasional dan juga memajukan pemenuhan hak dasar masyarakat didalam pendidikan nasional, diantaranya: Pertama, para guru dan organisasi guru bisa menjadi kekuatan kontrol dalam politik pendidikan nasional agar tidak menyimpang dari amanat konstitusi. Sesuai amanat konstitusi pendidikan nasional diabdikan untuk kepentingan masyarakat dalam konsep real education for all. Bukan justru menjadi pendidikan yang bercorak liberalistik-kapitalistik.

Pendidikan nasional haruslah didayagunakan sepenuhnya untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitasi pendidikan. jangan sampai ada cerita anak usia sekolah yang putus sekolah karena biasa sekolah yang mahal. Negara dan pemerintah—dibawah kontrol guru—harus membiayai pendidikan masyarakat. Kedua, para guru dan organisasi guru bisa menjadi pelopor segala inisiatif program peningkatan mutu pendidikan yang bersinergi dengan program pemerintah pusat dan daerah.

Organisasi guru semacam PGRI bisa membangun relasi program yang berkemitraan dengan pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk melaksanakan program-program peningkatan mutu pendidikan didaerah. Ketiga,para guru dengan otonomi mengajarnya bisa mengembangkan pola pendidikan berkarakter yang sesuai dengan kepentingan nasional. Serta menjadi pilar bagi pengembangan pendidikan dan lokal.

Reposisi strategis guru sendiri dalam analogi perjuangan pendidikan nasional bisa dirumuskan dalam matra sosial yakni sebagai kekuatan kontrol kebijakan pendidikan, sebagai pamong pengembangan karakter generasi muda, dan sebagai media pengembangan pendidikian kreatif yang berlandaskan dimensi nilai moral kebangsaan. Walhasil semoga posisi guru semakin kuat ke depan.

Selamat Hari Guru Nasional.

Ditulis oleh : PARAMITA FEBRIYANTI , Pemerhati Pendidikan dan Gerakan Guru, Tinggal di Magetan (Tulisan ini pernah dimuat dihttp://www.lintasberita.com dan http://www.magetankita.com tanggal 25 Nopember 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s