Peringatan Hari Pahlawan Di Tengah Kepungan Bencana

Posted: 20 November 2010 in Artikel

Ditulis oleh : IMAM YUDHIANTO SOETOPOPemerhati Bencana dan Aksi Kemanusiaan, tinggal di Magetan Jawa Timur

APA YANG BERMAKNA DI HARI PAHLAWAN INI?

Ibu Pertiwi meneteskan air mata duka. Gunung, lembah , sawah ladang, sungai dan lautan yang tadinya sebagai simpanan kekayaan bumi indonesia, seolah sedang murka, mengamuk, bergejolak dan mengubah dirinya menjadi bencana yang sambung menyambung. Mulai dari gempa bumi, banjir bandang, tsunami sampai letusan gunung Merapi.

Jerit tangis, dan rintihan nampak tergurat di wajah-wajah anak bangsa yang sedang dihimpit rasa takut, merasakan kelaparan, kedinginan, sedih dan duka karena kehilangan sanak keluarga yang mereka cintai. Bahkan para pengungsi di kamp kamp penampungan kerap disuguhi berita-berita yang menyesatkan penuh mistis, hingga muncullah kegamangan, keputusasaan dan bahkan ada yang nekat ingin bunuh diri. Itulah sebuah pose drama kehidupan di negeri nestapaIndonesia Raya yang sangat mengiris hati.

Di tengah duka yang mendalam ini, ironisnya para elit politik dan birokrat yang seharusnya menjadi panutan rakyat, justru menampilkan sebuah tontonan menjijikkan yang membuat mual perut rakyat yang tertindas. Tingkah laku bejat dan jelas jelas tidak mendidik terus dihadirkan dalam bingkai kaca milik bangsa, siapapun dapat melihat bagaimana tontonan praktik korupsi yang membabi buta, kunjungan kerja ke luar negeri yang menyedot banyak uang rakyat di saat bencana melanda, dan perilaku tidak terpuji lainnya yang akhirnya mengikis kepercayaan serta menambah kebingungan siapapun.
Sungguh, ilustrasi keadaan para elit di atas sangat tidak sinkron dengan tema Hari Pahlawan Tahun 2010 ini, yang berbunyi “Dengan Semangat dan Nilai Kepahlawanan Kita Tingkatkan Kesetiakawanan Soaial Nasional”. Tema yang seharusnya menjadi sesuatu yang berarti ketika diwujudkan dalam tindakan nyata, namun ternyata hanya sebuah simbol kering actions yang tiada guna.

Budaya Bangsa yang menganut aliran paternalistic dalam arti positif, yang memicu nilai nilai keteladanan dalam koridor pro kemanusiaan dan keadilan, sudah semestinya tumbuh menjadi semangat berkarya dan membangun kebersamaan. Tetapi apa yang terjadi pepacuh para Begawan dan Pujangga Indonesia jaman baheula  “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani“ malah justru dilupakan oleh para elit. Yang ada kini hanyalah budaya menjegal kawan seiring, menggunting dalam lipatan, dan budaya korup yang kian berakar dan merajalela.

Lalu apa yang bermakna di hari pahlawan ini? Selain kepiluan dan kepedihan tiada terperi yang kini ada di hati rakyat korban bencana.

EPISODE KELABU BANGSA INDONESIA

Indonesia kerap menjadi langganan bencana alam. Tapi mengapa, setiap terjadi bencana, penanganan bantuan dan evakuasi korban, masih terkesan carut marut, sporadis dan tidak terkontrol secara optimal?
Pelajaran bencana masa lalu, sepertinya belum mampu menjadi sandaran pikir dan sikap untuk sebuah perbaikan system siaga bencana atau tanggap darurat bencana. Dimulai dari Tsunami di Aceh (26 Desember 2004) ; Gempa Bumi di Padang Sumatera Barat (30 September 2009) ; Meletusnya Gunung Sinabung (29 Agustus 2010) dan bencana alam lainya, termasuk banjir di Jakarta, banjir di Wasior hingga meletusnya Gunung Merapi di Jogyakarta.
Episode Kelabu lebih tepat untuk menggambarkan bangsa hari ini, kelabu akibat tertutup abu dan debu vulkanik, kelabu tersiram air bah, yang akan sangat membahayakan, sekiranya tidak segera dibersihkan, tidak segera diperbaiki dan tidak segera interospeksi diri secara Nasional, demikian yang dikatakan oleh Eddy Prasetyo, Wakil Ketua PW ANSOR dan Sekretaris KNPI KEPRI.

Tentu tanpa bermaksud mencari siapa yang salah dan siapa yang benar ? ataupun menuduh semua ini akibat dosa siapa ? tetapi menjadikan pertanyaan kita bersama, apakah bangsa ini benar-benar sedang dalam “terpuruk” ?

Sebagai bangsa besar yang berdaulat dan bermartabat kita sepakat bahwa pernyataan tersebut Tidaklah benar…!
Optimisme harus terus ditegakkan, mengingat jutaan masyarakat bangsa sangat membutuhkan keyakinan itu. Keyakinan yang tidak boleh padam, agar kehidupan segera berganti menjadi kehidupan yang penuh harapan bagi kehidupan yang lebih baik.
Berkaitan dengan Hari Pahlawan 10 November, 2010 ini, tidaklah berlebihan, manakala kita melihat kembali sejarah kepahlawanan untuk membangkitkan semangat kebersamaan, semangat kepedulian dan optimisme bangkit dari keadaan yang kita alami dan rasakan bersama.

Kebangkitan ini nampak saat berada di tengah ujian menghadapi bencana berturut-turut,  muncul gerakan solidaritas sebagai sesama anak bangsa. Diantara mereka ada yang bergerak melakukan penggalangan dana melalui social media dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Sampai ada yang mengamen di jalanan dan di atas kendaraan umum guna menarik simpati dan empati, sehingga para donator kemudian mau merogoh koceknya demi meringankan beban yang dialami korban bencana. Dan yang paling hebat adalah yang dilakukan oleh sebagian lainnya, dimana mereka rela meninggalkan sanak keluarganya di rumah dan memilih menjadi relawan  kemanusian di daerah bencana.

Bagi saya merekalah yang lebih layak disebut sebagai pahlawan kemanusian hari ini. Tidak seperti apa yang didukung oleh beberapa oknum fraksi di DPR-RI untuk diajukan, diangkat dan syahkan menjadi pahlawan nasional, yaitu seorang mantan presiden yang telah mengajarkan dan meninggalkan jejak budaya korup selama puluhan tahun, yang kemudian. Maka jelaslah di mata kita, jika itu adalah perbuatan para oknum yang tidak tahu malu.

MEMAKNAI TEMA HARI PAHLAWAN
“Dengan Semangat dan Nilai Kepahlawanan Kita Tingkatkan Kesetiakawanan Sosial Nasional” demikianlah tema hari pahlawan tahun ini. Pada dasarnya sikap kesetiakawanan sosial merupakan jati diri bangsa, sebuah semangat spiritual yang dilandasi oleh niat luhur, untuk secara bersama-sama dan bertanggungjawab atas sebuah partisipasi sosial, rela berkorban bagi kepentingan banyak, tentu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tanpa memandang perbedaan.

Dalam konteks kekinian, jiwa kepahlawanan bukan lagi bermakna memanggul senjata bertarung fisik melawan musuh, melainkan individu-individu atau kelompok-kelompok masyarakat dari berbagai tingkatan yang secara ikhlas rela berkorban jiwa dan raga demi kepentingan orang banyak serta demi mengangkat harkat dan martabat masyarakat bangsa dalam arti yang seluas-luasnya.
Dengan kata lain, sipapun kita, apapun profesi kita, dapat menjadi pahlawan, ketika memiliki keberanian, kejujuran dan keikhlasan, rela berkorban jiwa dan raga demi membela kebenaran hakiki semata-mata untuk kepentingan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara menuju yang lebih baik.
Pahlawan sejati tidak membutuhkan atau menuntut gelar, karena sehebat apapun gelar, mereka tidak akan pernah menikmatinya Karena Pahlawan bukan titel yang harus dikejar seperti gelar akademis tetapi sebuah perjuangan tanpa melihat warna dan latar belakang. Itulah implementasi pahlawan dalam konteks penanggulangan bencana. Hadir tanpa orang lain melihat, pergi tanpa jejak,tetapi meninggalkan bukti nyata. Dan ketika itu terwujud, maka sampai kapan pun, makna Hari Pahlawan akan menemukan relevansinya.

Pahlawan masa lalu, masa kini dan masa depan adalah “Pahala-wan”, yakni orang-orang yang berpahala, karena melakukan perbuatan nyata. hanya karena kodratnya sebagai manusia mengabdi kepada Sang Khaliq secara batiniyah, dan kepada sesama manusia, sebagai kewajiban beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Intinya, Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing.Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar.

Di akhir catatan singkat ini, kami menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya para korban banjir Wasior, korban bencana Tsunami Mentawai, serta koban letusan Gunung Merapi Jogyakarta, khususnya kepada  H. Tutur Priyanto, SE, sebagai kader relawan terbaik  yang telah kembali ke rahmatullah.

SELAMAT HARI PAHLAWAN…!!!!

 

Komentar
  1. Mbah Kumis mengatakan:

    Mam. bloge lumayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s