Timur Pradopo Dan Spiral Kekerasan Sipil

Posted: 19 November 2010 in Artikel

Calon Kapolri Baru Komjen Pol. Timur Pradopo dipastikan akan melenggang menduduki kursi Trunojoyo 1. Agenda Fit and Proper Tes yang diadakan oleh DPR secara bulat merespons positif pencalonan Timur Pradopo. Meskipun sempat tersendat isu pelanggaran HAM kasus Semanggi, Timur yang pada saat itu menjabat Kapolres Jakarta Barat, dipastikan akan memimpin institusi polri beberapa tahun  ke depan. Tampilnya perwira tinggi Polri yang sebenarnya termasuk “yunior” dibandingkan dengan seniornya Nanan Soekarna, ditengarai merupakan pesanan politik Istana, dengan kepentingan mengamankan kepentingan SBY dan Partai Demokrat pada pemilu 2014.

Bagi kalangan aktifis gerakan pro demokrasi, munculnya sosok Timur Pradopo yang asli kelahiran Jombang, Jawa Timur ini, menimbulkan segudang pertanyaan. Hal tersebut terkait kedekatan Timur dengan berbagai Ormas radikal keagamaan salah satunya FPI. Timur dan Polri dianggap selama ini terlampau melindungi  aktivitas ormas keagamaan yang dianggap dekat praktek premanisme berlatar isu SARA.

Melajunya karir Timur Pradopo, sebagai Kapolri memunculkan kritis “keras” sekaligus harapan dari berbagai kalangan. Harapan dan kritisisme terkait tentang kinerja Timur Pradopo dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tubuh Polri yang terkait dengan “tupoksi” institusi Kepolisian Republik Indonesia. Di antaranya tentang kasus skandal century, isu “rekening gendut” perwira tinggi Polri sampai isu praktik korupsi di tubuh Polri.

Adapun  terkait dengan pelaksanaan “tupoksi” Polri, Timur banyak andil dalam menyelesaikan tiga kasus besar yang selalu berkelanjutan, yaitu kasus pemberantasan terorisme, isu penegakan hukum dari praktek anarkhisme massa, Narkoba dan Korupsi.

Khusus kaitan dengan matra tugas memberantas terorisme (baca : premanisme) Polri sendiri diresponsi pro dan kontra oleh publik. Terutama tentang model pemberantasan terorisme yang acapkali dianggap melanggar HAM dan terkesan tidak tuntas. Bahkan isu dan agenda memberantas terorisme selama ini disinyalir dekat dengan kepentingan strategis pencitraan Polri dan kepentingan istana.

Pemberantasan terorisme sendiri yang menggunakan strategi represif yang sering kali menimbulkan korban dan mengabaikan model pendekatan pencegahan dan persuasif, dianggap tidak efektif oleh beberapa kalangan. Mengingat terorisme itu sendiri berakar pada ideologi kontra negara yang merasuk kepada kesadaran para pelaku atau komunitas teror. Terorisme sendiri juga memiliki kerancuan definisi jika dilihat dari perspektif keadilan global. Terorisme di Indonesia boleh jadi disebabkan oleh faktor objektif kesenjangan ekonomi yang bertemu dengan kepentingan ekspresi ideologi transnasionalisme, yang mencoba melawan hegemoni barat dengan jalan “jihad fisabililah” yang jelas jelas  salah tempat dan salah jalan.

Polri juga dituntut publik untuk bisa menekan praktek premanisme dan anarkhis massa. Untuk menghadapi anarkhisme massa polri telah menetapkan protap penangangan anarkhisme dengan perintah tembak ditempat bagi pelaku kerusuhan. Yang akhirnya juga memicu polemik publik yang keras kaitan dengan perjuangan HAM.

Dalam penangangan terorisme, anarkhis, atau premanisme Polri memang dituntut untuk bersikap tegas dan keras, tanpa mengabaikan prinsip prinsip humanity. Hal inilah yang sering kali menyulitkan Polri. Namun sebagai institusi penjaga keamanan sipil dan penegakan hukum, Polri memang dituntut untuk mencapai standar profesionalisme.
Profesionalisme Polri sendiri memerlukan syarat kondisional, yakni:

Pertama, Polri harus bisa menyentuh kemauan masyarakat dan memahami anatomi kekerasan sipil. Anatomi kekerasan sipil baik itu aksi terorisme, premanisme dan anarkhisme harus bisa dibaca dalam kerangka analisa yang tajam dan tepat sasaran. Sehingga memudahkan dan memberikan solusi dalam penanggulangannya. Anatomi kekerasan sipil yang harus dipangkas oleh tupoksi—tugas, pokok dan fungsi—polri di bawah Kapolri baru.
Kedua, Polri harus mampu mengoptimalisaskan kewenangan dan sumber daya internalnya, untuk bisa melakukan aktivitas soft strategy dalam menghadapi berbagai praktek kekerasan sipil. Soft Strategy yang menjauhkan dari watak militerisme namun menggunakan pendekatan berbagai disiplin ilmu diantaranya sosiologi konflik dan pendekatan keamanan yang berpatok pada acuan penegakan HAM. Itulah yang menjadi tantangan Kapolri baru dan Polri untuk beberapa tahun ke depan.

Ketiga, Polri dibawah Timur Pradopo harus bisa membangun relasi dan komunikasi secara gentlement dan transaparan dengan berbagai komponen masyarakat sipil termasuk subjek pelaku kekerasan, hingga Polri bisa pula menjadi lembaga transformasi konflik yang merupakan fungsi ideal Polri diera demokrasi dan penegakan HAM.

Timur yang memiliki pengalaman untuk menangani berbagai kasus dan konflik serta memiliki kedekatan dengan berbagai komunitas yang dianggap dekat dengan praktek subjektif kekerasan sipil dan hal tersebut menjadi bekal, untuk menjalankan peran sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat.

Harapannya masyarakat, Polri dengan Pemimpinnya yang baru bisa menjalankan amanah untuk menjaga kedaulatan negara, penegakan hukum dan penghormatan HAM dalam menjalankan tugas untuk meredam berbagai kasus yang bergejolak di tengah masyarakat.
Penanganan Spiral Kekerasan Sipil sebaiknya menjadi prioritas jika negara dan pemerintah tidak ingin dianggap mendorong aktivitas kegagalan negara. Kegagalan negara dalam memberikan perlindungan hak asasi masyarakatnya. Serta menegakkan ketertiban sipil. Semoga.

Ditulis oleh: IMAM YUDHIANTO SOETOPO, SH (Pemerhati Terorisme dan Kekerasan Sipil, Tinggal di Magetan) — pernah dimuat di lintasberita.com – 18/10/2010 —

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s