Quo Vadis Jurnalisme Bencana?

Posted: 19 November 2010 in Artikel

Model penyiaran informasi dan pemberitaan bencana Merapi menuai protes dari berbagai elemen masyarakat, termasuk para relawan bencana dan korban bencana. Karena model penyiaran informasi tentang bencana Merapi menimbulkan keresahan dikalangan korban bencana. banyak informasi dan berita yang tidak akurat dan cenderung tidak sesuai data dilapangan.
Bahkan ada sebuah media elektronik, yang dalam penyiaran informasi bencana sering berlawanan dengan fakta dilapangan. Banyak narasi informasi, yang menyimpang jauh dari kenyataan. Contohnya seperti yang diuungkap oleh jaringan relawan yang mengirim nota protes ke KPI atas beberapa tayangan yang “menyesatkan” dalam pemberitaan bencana Merapi. Ada berita bahwa jarak luncuran awan panas mencapai jarak 25 Km, ada pula berita bahwa yang membuat tewas sejumlah pengungsi adalah guguran lahar panas, dan bukannya awan panas.

Pemberitaan Bencana Merapi sendiri bahkan banyak yang dibumbui dengan cerita-cerita mistik dan non ilmiah. Tayangan infotainment seperti “SILET” RCTI misalnya berani meramal akan ada letusan besar tanggal 8 November 2010.  Hal inilah yang membuat KPI perlu melakukan kritik atas pola pemberitaan media dan penyiaran informasi yang menyesatkan tersebut.

Pemberitaan atau penyiaran informasi-berita tentang Bencana Merapi dan juga bencana-bencana lainnya, memang selama ini dianggap jauh dari semangat objektifitas pemberitaan. Jauh dari proses penyampaian berita yang akurat, dan berlandaskan fakta yang autentik. Sehingga seolah-olah dalam tayangan media, berita dan informasi mewakili kenyataan yang sebenar-benarnya dilapangan.
Jurnalisme baik jurnalisme cetak atau elektronik dalam liputan bencana memang dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan dalam upaya menggali informasi dan berita. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain:
Pertama, peliputan bencana memiliki resiko yang tinggi. Sehingga ketika kalangan jurnalis berhasil meliput sebuah momen yang krusial maka semangat pemberitaan begitu meluap sehingga apa yang disiarkan acapkali mewakili semangat yang “meluap” tersebut. Hal inilah yang dinamakan psikologi jurnaistik yang belum mampu mengendalikan emosi.
Kedua, dalam peliputan bencana sering kali media dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi. Kepentingan ekonomi media, mewajibkan media untuk mencari berita yang sensasional dan juga memiliki nilai jual yang tinggi untuk mendongkrak rating sehingga mendapatkan keuntungan dari berita dan informasi yang ditampilkan.
Ketiga, objektifitas media dalam liputan bencana dipengaruhi kepentingan politik-ekonomi para pemiliknya dan juga faktor agenda setting media, yang menjadikan bencana sebagai objek yang diperdaganngkan bak komoditi.
Jurnalisme bencana memang kini mendapatkan kritisisme meluas dari berbagai kalangan karena praktek komodifikasi yang dilakukan. Jurnalisme bencana bahkan dituduh menjadikan momentum bencana bak infotainment yang tayangangannya ditunggu oleh para penikmat berita dan tayangan.

Hal inilah yang patut disesali, karena fungsi jurnalisme bencana ada tiga hal: Pertama, Jurnalisme Bencana seharusnya selain menginformasikan tentang dampak dan kronologi bencana juga menjadi media yang mendidik masyarakat terhadap kejadian bencana. Membelajarkan nilai-nilai kearifan lokal dalam menghadapi bencana. Juga memberitakan fakta bencana yang bisa menjadi bahan pelajaran dimasa depan.
Kedua, Jurnalisme bencana harus mengedepankan nilai humanisme sosial dengan mengungkap data dan fakta yang akurat, sehingga bisa menjadi bahan pendidikan sosial bagi masyarakat korban dan non korban bencana tentang hikmah yang didapatkan dari kejadian bencana.
Ketiga, Jurnalisme bencana jangan sampai memberitakan atau menyiarkan sesuatu yang justru melukai perasaan korban bencana. Dengan memberitakan atau menyiarkan informasi yang membuat masyarakat korban bencana menjadi patah semangat menghadapi realitas yang dialami.

Jurnalisme bencana adalah jurnalisme yang seharusnya bisa mengungkapkan harapan masyarakat korban bencana terhadap masa depan meraka. Menjadi kontrol sosial atas praktek manajemen bencana, dan mengeliminasi praktek korupsi bencana. Jurnalisme bencana menjadi isntrumen bagi upaya mendorong solidaritas luas masyarakat agar memiliki inisiatif progresif untuk membantu korban bencana dengan segala sumber daya yang ada.
Jurnalisme bencana, yang ideal adalah jurnalisme rasa dan fakta. Jurnalisme yang serius mengembangkan sikap solider dan keprihatinan bersama masyarakat. Mengungkapkan fakta yang seobjektif mungkin sehingga bisa menjadi media yang mendidik masyarakat non korban bencana. lebih bijak pula apabila jurnalisme bencana bisa menjadi media yang menghibur komunitas korban bencana. Quo Vadis jurnalisme bencana?

Ditulis oleh : IMAM YUDHIANTO SOETOPO — Pemerhati Jurnalisme dan Aktivis Kemanusiaan , tinggal di Magetan Jawa Timur —

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s