Sinyal Mundur Gerakan Mahasiswa

Posted: 19 November 2010 in Artikel

Ditulis oleh : IMAM YUDHIANTO SOETOPOPemerhati Aktivis dan Gerakan Mahasiswa

PENCITRAAN gerakan mahasiswa menuju ke titik nol. Demonstrasi mahasiswa selalu diidentikkan dengan aksi kekerasan dan anarki. Setidaknya pandangan itu terserak di berbagai situs jejaring sosial dan komentar tendensius elite kekuasaan.

Gerakan mahasiswa tak lagi dianggap gerakan moral yang santun dan lekat dengan posisi sebagai korban ketika terjadi tindakan opresif aparatus keamanan.
Upaya membangun pencitraan negatif terhadap gerakan mahasiswa juga sering dilontarkan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, yang selalu menyampaikan pesan bermuatan politik agar gerakan mahasiswa tak ditunggangi kepentingan politik praktis. Itu kosakata yang lazim terdengar nyaring dari mulut pejabat militer dan sipil era Orde Baru, ketika menyikapi aksi mahasiswa menentang tirani.
Tak Beroleh Ruang Kemerosotan citra dan imajinasi publik atas gerakan mahasiswa setelah era 98 yang ditempatkan sebagai protagonis reformasi disebabkan oleh beberapa faktor signifikan. Pertama, kecakapan membangun komunikasi dan relasi antarelemen gerakan mahasiswa, jejaring organisasi, dan kelompok masyarakat sipil lain begitu lemah. Gerakan mahasiswa dahulu sangat mesra dengan media. Namun kini tak lagi berada dalam kemitraan opini dengan media. Dulu, era 80-an dan 90-an, mayoritas aktivis mahasiswa adalah kader pers mahasiswa yang memiliki ikatan psikologis dengan dunia jurnalistik.
Kedua, aksi mahasiswa era 2000-an dekat dengan kultur kekerasan karena proses implosi aspirasi yang tak direspons oleh struktur formal kekuasaan. Gerakan mahasiswa saat ini sebagai bagian dari pilar penjaga moral demokrasi tak beroleh ruang berkomunikasi politik dengan institusi pengambil kebijakan publik. Padahal, laba keterbukaan reformasi dan demokrasi adalah karya mahasiswa dan masyarakat.
Ketiga, kecakapan membangun pencitraan elemen gerakan mahasiswa kalah oleh skenario pencitraan kekuasaan di bawah kepemimpinan SBY-Boediono yang secara otomatis menghegemoni upaya pembangunan pencitraan kelompok lain di luar negara.
Budiman Sudjatmiko, eksponen gerakan 90-an yang kini jadi politikus di Senayan, memiliki argumentasi menarik mengapa gerakan mahasiswa kini seperti kekuatan politik moral yang terasing. Dia menyatakan gerakan mahasiswa kini kekeringan diskursus ideologi dan gagal memenangi dukungan riil politik di tingkat akar rumput.
Terbelah. Benarkah gerakan mahasiswa kekeringan ideologi dan gagal mendapat dukungan riil politik di tingkat akar rumput — kampus dan masyarakat? Saya punya argumentasi berbeda. Gerakan mahasiswa saat ini tak kekeringan diskursus ideologi karena terkotak-kotak dalam berbagai spektrum ideologi yang mempersulit jalinan gerakan antarelemen mahasiswa.
Spektrum ideologi gerakan mahasiswa terbelah jadi tiga komponen. Gerakan mahasiswa strukturalis memandang persoalan bangsa dan negara dari kacatama ideologi antikemapanan dan antisistem yang dinamakan neoliberal.
Banyak elemen dalam barisan analisis dan penalaran ideologi semacam itu, antara lain LMND, FMN,FPPI, SMI, PMKRI. Organisasi dan komunitas gerakan mahasiswa itu menjalin aliansi dengan sektor gerakan sosial yang lain dan membawa isu gerakan antisistem yang disebut neoliberal.

Komponen lain adalah gerakan mahasiswa beraliran “kanan progresif”, gerakan mahasiswa dari rahim gerakan politik Islam yang berani menjadi kekuatan oposisi melawan isu ketidakadilan dan kelaliman kekuasaan. Mereka terbagi menjadi dua jalur gerakan. Jalur pertama, gerakan dakwah dan aksi berbasis komunitas muslim kampus, antara lain KAMMI dan Gema Pembebasan Hizbut Tahrir. Itulah gerakan yang aktif mengkritik sistem ekonomi-politik kekuasaan, tetapi solusi akhirnya adalah syariah.
Jalur kedua gerakan sosial Islam. Gerakan yang mengambil peran memperjuangan program advokasi kerakyatan dan bergerak di ranah kaum muslim yang miskin itu antara lain PMII, HMI, IMM. Ketiga organisasi itu sering bergandengan dalam program advokasi dengan non- government organization (NGO).
Gerakan Objektif Komponen yang bisa dikatakan gerakan objektif mahasiswa adalah yang dilembagakan organisasi formal kemahasiswaan dan komite aksi mahasiswa yang bersifat nonpermanen di kampus. Mereka ajek menyuarakan isu politik kontemporer dan advokasi kebijakan publik.
Gerakan mahasiswa dalam berbagai kaveling ideologi itu dalam satu posisi bisa bekerja sama memperjuangkan program dan isu yang memihak kepentingan masyarakat. Namun suatu ketika bisa bersikap berbeda dan bahkan kelak berpeluang bertentangan.
Pencitraan gerakan mahasiswa saat ini meredup akibat sinyal regresivitas. Gerakan mahasiswa era 80-an dan 90-an berani membangun basis dukungan di komunitas masyarakat secara masif, tetapi kini kembali bergerak dalam wilayah lokal di kampus. Logika rasionalnya, di wilayah masyarakat sipil sudah banyak organisasi dan aktor yang berani memperjuangkan hak mereka. Juga partai dan politikus mulai intensif menjadikan masyarakat sipil sebagai basis binaan program politik partisan.

Gerakan mahasiswa era kekinian memang lekat dengan pemikiran rasional politik dalam agenda aksi mereka. Namun tidak progresif dalam membangun basis dukungan politik dari masyarakat. Tak pelak, mereka menjadi ”pejuang” kesepian, sebagaimana Soe Hok Gie pernah merefleksikan kegagalan substansial gerakan mahasiswa era 66, yang akhirnya jadi kaki tangan kekuasaan.
Karena itu gerakan mahasiswa harus membangun kembali kemitraan dan kerja sama program dengan berbagai elemen di kampus dan luar kampus. Langkah itu untuk memperoleh kekuatan legitimasi moral agar dicintai kembali oleh masyarakat. Bukan hanya berjalan dalam roh eksistensi kelompok yang tak mendatangkan kemajuan kualitas gerakan. Wallahu a’lam bish shawab.

*Tulisan pernah dimuat di Harian Suara Merdeka – Rubrik Kampus, Tanggal  30 Oktober 2010 (http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/30/128489/19/Sinyal-Mundur-Gerakan-Mahasiswa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s