20160508_213312MAGETAN, Keluhan sebagian Kepala Desa dan Perangkat Desa di Kabupaten Magetan terkait lambannya proses pencairan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD), direspon oleh Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Magetan. “Kalau Penyaluran Dana ke Desa lamban, dipastikan proses pembangunan dan pelayanan masyarakat akan terhambat. Jika ini terjadi, kami sebagai bagian elemen masyarakat patut menyesalkan,” ujar Imam Yudhianto, Ketua Pemuda Muhammadiyah Magetan.

Imam menjelaskan bahwa Kader Pemuda Muhammadiyah yang berada di tingkat cabang dan ranting, akhir akhir ini kerap mendapat keluhan dari Kades dan Perades yang mengeluhkan terhambatnya pelaksanaan kegiatan desa di awal tahun. Mereka menginginkan agar pemerintah daerah dapat mempermudah dalam fasilitasi proses pencairan dana ke Desa.

Sebagaimana diketahui, dalam Permendagri 113 tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Keuangan Desa dan Panduan Pengelolaan Keuangan Desa Kabupaten Magetan Tahun 2016, jadwal pencairan tahap pertama untuk DD adalah bulan Maret sedangkan untuk ADD bulan April pada tahun Berjalan. Jika mekanisme tersebut tidak tepat waktu maka akan mempengaruhi pencairan tahap berikutnya. Otomatis pelaksanaan proses pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan pembinaan kelembagaan desa akan terhambat. “Sekarang kan sudah masuk bulan Mei, kalau tidak ada kontrol yang kuat, saya khawatir pencairan tahap pertama ini akan molor dan menimbulkan masalah baru,” tegas Imam.

Menurut Analisa Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Magetan, lambannya proses pencairan disebabkan beberapa hal : PERTAMA, adanya indikasi keterlambatan Pengesahan APBDes di beberapa Desa, akibat berubah rubahnya kebijakan pemerintah dan kebijakan daerah yang mengatur tentang penyusunan APBDES, serta lambannya ketetapan Perbup tentang pagu Indikatif besaran DD dan ADD untuk 207 Desa di Kabupaten Magetan. “Semestinya sesuai aturan, APBDES harus sudah disahkan paling lambat 31 Desember tahun berjalan, tapi ini malah ada Desa yang sampai bulan februari belum juga disahkan. Keterlambatan ini jelas disebabkan karena kurang responnya SKPD pembina dan Kecamatan dalam memfasilitasi pengesahan APBDes di Desa-Desa.” papar Imam.

KEDUA, Penyelesaian SPJ Realisasi DD dan ADD untuk tahap II dan III dari desa banyak yang belum selesai 100 persen. Hal ini disebabkan bukan karena kegiatan belum dilaksanakan, akan tetapi lebih banyak disebabkan karena sulitnya penyusunan dokumen pertanggungjawaban anggaran. Mulai dari sisi aspek hukum  (seperti pembuatan SK Kades, perjanjian kerjasama, dokumen lelang, dll), aspek syarat kelengkapan dokumen (seperti bukti belanja, kwitansi, SPPD, SSP, dll), serta administrasi pelengkap lainnya (seperti foto dokumentasi, papan nama proyek, dll). “Kami menilai, pemahaman bendahara desa dan aparatur yang membidangi penyelesaian SPJ masih kurang, maka hal ini perlu ditingkatkan dengan melakukan transfer pengetahuan tentang keuangan Desa melalui pelatihan intensif dan pendampingan, sehingga penyelesaian SPJ Realisasi Dana tidak terhambat,” usulnya.

KETIGA,  mekanisme proses pencairan di tingkat SKPD, dalam tataran implementasi diindikasikan belum diterapkan secara profesional. Terbukti dari curhatan beberapa kades yang ditangkap oleh Pemuda Muhammadiyah, terkait dokumen pengajuan antara versi Bapermas Pemdes dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) masih ada perbedaan. Sehingga menyebabkan para Kades dan Bendahara Desa harus bolak balik dari Desa ke Bapermas untuk mencukupi persyaratan dokumen tersebut. Ketidak-konsitenan standart mekanisme dokumen pencairan yang diterapkan oleh dua SKPD ini menyebabkan proses pencairan Dana menjadi terhambat. “Semestinya dari awal tahun kemarin, Bapermas dan BPKAD menyepakati hal hal yang penting kaitan pencairan dana, kalau kejadiannya seperti ini, namanya kan tidak profesional?,” tuding Imam.

Belum lagi adanya indikasi ketidakseragaman Bank Penyalur Dana yang menerapkan standar dokumen pengajuan pencairan dana. Masing-masing Bank memiliki tata cara tersendiri dalam pengaturan persyaratan penyetoran maupun pengajuan pencairan dana melalui Giro. Dan sebagaimana telah diketahui, di Magetan ada tiga Bank yang memfasilitasi penyeluran Dana APBN maupun APBD ke Desa, diantaranya Bank Mandiri, Bank Jatim, dan BRI. “Semestinya Bank Penyalur melakukan kesepakatan bersama yang dituangkan dalam format MoU yang bertujuan untuk mempermudah pihak desa dalam proses pencairan dan tidak melakukan praktik mban cinde mban siladan kepada Desa serta berkomitmen untuk mempercepat liquiditas Dana Pembangunan Desa.” tuntut Imam.

Imam menambahkan, bahwa Pemuda Muhammadiyah Magetan siap berkoordinasi dan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah, DPRD dan stakeholders lainnya berkaitan dengan upaya mewujudkan good government, dan good governance serta implementasi program-program Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD). “Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Magetan memiliki 19 Cabang dan lebih dari 200 ranting, yang siap bekerja sama dengan siapapun untuk mewujudkan Magetan yang lebih baik, lebih sejahtera, baldatun thoyyibatun warobbun ghoffur,” pungkasnya.

20160508_211938Bagi Pemuda Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemajuan bukan sekedar wacana dalam bingkai konseptual dan retorika. Sebagai bagian tak terpisahkan dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), secara subtansial Pemuda muhammadiyah akan merevitalisasi gerakan tajdid (pembaharuan) sebagai bagian implementasi misi persyarikatan Muhammadiyah dalam bentuk Gerakan Islam Berkemajuan. Demikian diungkapkan H. Imam Yudhianto Soetopo, SH, SE, MM sesaat setelah terpilih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah magetan pada Musyawarah Daerah XV Pemuda Muhammadiyah Magetan.

“Tujuannya jelas, yaitu bagaimana Pemuda muhammadiyah dapat merealisasi sebuah format kegiatan yang visioner dan mencerahkan di berbagai bidang pembangunan. Utamanya di bidang pembangunan Aqidah dan Akhlaq, bidang pembangunan Ekonomi, Pendidikan, Sosial, dan Politik.”, terangnya.

Saat ini, kata Imam, kita menghadapi tantangan pergeseran nilai-nilai akibat dari pasar bebas yang membebaskan nilai-nilai apapun masuk ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Era keterbukaan dalam segala hal, pada sektor ekonomi, politik dan nilai-nilai memunculkan era kompetisi yang tak terelakkan. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pemuda Muhammadiyah harus mampu menghadapi kompetisi global di tingkat lokal dengan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya. Imam menjelaskan, “Dalam menghadapi tantangan globalisasi saat ini, kader pemuda muhammadiyah setidaknya harus memiliki empat kekuatan. Yakni, kekuatan ilmu pengetahuan, kekuatan ekonomi, kekuatan agama dan kekuatan persatuan”, ujar Imam.

Segudang persoalan bangsa memerlukan partisipasi seluruh elemen bangsa. Pemuda Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi generasi muda Islam, memiliki tugas untuk mencurahkan segala kekuatan yang ada untuk kepentingan-kepentingan ummat dan kebangsaan secara makro. Pemuda Muhammadiyah tidak sepatutnya terjebak kepada agenda-agenda rutin internal konvensional, tetapi juga lebih berperan dalam berbagai urusan publik seperti persoalan Penegaan Hukum, Advokasi HAM, jender, demokratisasi dan globalisasi.

“Dengan potensi yang ada, Pemuda Muhammadiyah dapat memainkan peran yang lebih besar, misalnya dalam menciptakan good governance di negeri ini”. Tambahnya

Diungkapkan Imam, dalam konteks kehidupan Indonesia secara regoinal dan lokal masih banyak hal-hal yang harus diubah dan didorong menuju kehidupan bangsa yang berkemajuan. Pemuda Muhammadiyah perlu terus mendorong dan bergerak memajukan bangsa Indonesia itu sebagai bentuk tanggungjawab keislaman dan kebangsaan. Jika umat Islam di negeri ini ingin kokoh keberadaan dan peranannya dalam kehidupan bangsa dan negara maka elemen gerakan anak muda seperti Pemuda Muhammadiyah harus menjadi pelaku utama bagi kemajuan Indonesia. Siapa lagi yang akan bertanggungjawab terhadap negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini jika tidak kekuatan-kekuatan Islam sendiri.

“Jadilah penentu kemajuan Indonesia agar tidak ditentukan oleh pihak lain. Pemuda Muhammadiyah Magetan telah berkomitmen untuk ikut memelopori gerakan Generasi Muda Indonesia Berkemajuan bagi masa depan bangsa dan negara tercinta ini”. pungkasnya. 

 Dikutip dari media cetak : Magetan Post no.727, TH.XV, 05-11 Mei 2016

antsMuhammadiyah tidak akan terpisah atau dipisahkan dengan politik, karena bagaiamapun politik adalah hulu dari segala kebijakan, hanya saja kegiatan politik muhammadiyah adalah politik yang bermartabat dan tidak akan mengorbankan nilai-nilai kepatutan dan keIslaman.

Saat ini ada dua kelompok dalam internal Muhammadiyah yang memandang soal politik. Kelompok pertama, menginginkan Muhamadiyah terlibat dalam politik praktis, karena mereka menganggap tanpa mengambil poitik praktis, maka Muhamadiyah akan kesulitan memperjuangkan kepentingan umat Islam dalam ranah publik. Sedangkan kelompok yang kedua yang tidak ingin Muhammadiyah terlibat pada politik praktis, karena hanya akan membuat tarik menarik kepentingan yang hanya akan membuat kerugian dalam Muhammadiyah.

Muhammadiyah sebenarnya tidak pernah melarang kadernya untuk terjun di kancah politik praktis, bahkan mendukung kadernya untuk berkiprah di ranah politik. Hanya saja ketika sudah masuk dalam ranah politik, maka kepentingan praktis jangan dibawa ke dalam tubuh Presyarikatan, dan tetap menjunjung tinggi akhlaq sesuai dalam bingkai Muhammadiyah.

Dengan melihat langgam gerak Muhammadiyah mengenai politik tersebut, anggota atau kader Muhammdiyah yang aktif dalam Partai Politik jangan sampai mencampuradukkan dan membawa kepentingan politik ke dalam Persyarikatan. Lebih jauh lagi ketika konflik kepentingan dan pemikiran haruslah mengutamakan dan membela Muhammadiyah.

Dalam bidang politik Muhammadiyah berusaha sesuai dengan khittahnya: dengan dakwah amar ma ma’ruf nahi mungkar dalam arti dan proporsi yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah harus dapat membuktikan secara teoritis konsepsionil, secara operasionil dan secara kongkrit riil, bahwa ajaran Islam mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera, bahagia, materil dan spirituil yang diridlai Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Dalam melaksanakan usaha itu, Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada khittahnya.

Banyak orang berbicara bahwa dakwah amar makruf nahi mungkar yang telah menjadi “khittah” Muhammadiyah sejak awal, dimaksudkan untuk membatasi gerakan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan sosial semata. Modernitas gerakan Muhammadiyah, lebih mengemuka pada wilayah state of mind, bukan pada tradisionalitas patronase kultural atau politik. Inilah yang menyebabkan “fatwa politik” petinggi Muhammadiyah, tidak mudah untuk begitu saja ditaati

Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, tentu saja keberadaan Muhammadiyah di tengah kancah kehidupan berbangsa dan bernegara cukup diperhitungkan. Apalagi Muhammadiyah mempunyai anggota mencapai 30 juta orang. Secara politis, angka 30 juta itu sangat strategis. Apalagi kalau kita lihat, relasi Muhammadiyah dan politik memiliki akar sejarah yang panjang.

Dalam pandangan para pakar, akar geneologisnya dapat ditarik ke belakang yakni sejak kelahiran gerakan ini pada 1912 atau bahkan sebelumnya, apabila dikaitkan dengan aktivitas pendirinya K.H. Ahmad Dahlan dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan sebelum tahun 1912. Dalam perkembangannya, relasinya dengan politik banyak ditentukan oleh konteks sosio-kultural dan politik yang dihadapinya sehingga memberikan respons terhadap proses perubahan politik dan terlibat aktif di dalamnya. Dalam hal tertentu, Muhammadiyah telah menjadi bagian integral dari sejarah politik Indonesia, meski tidak seluruh aktivitasnya dihabiskan dalam politik.

Muhammadiyah menganut prinsip netral dalam politik dan para anggotanya diberi kebebasan untuk memilih gerakan politik yang sesuai dengan kecenderungannya. Prinsip ini telah diputuskan dalam Kongres di Surakarta pada 1929 bahwa “Muhammadiyah tidak mengutamakan salah satu partai politik Indonesia dan melebihkan partai lainnya; dalam hal ini, Muhammadiyah menghormati partai-partai itu secara sepadan, tetapi Muhammadiyah sendiri akan mengutamakan peran serta dalam melaksanakan kewajiban tertentu untuk mempertahankan keselamatan tanah air Indonesia.”

Sejak berdiri pada 1912, menurut Syarifuddin Jurdi, Muhammadiyah telah menunjukkan partisipasi politiknya dalam kehidupan kenegaraan. Partisipasi politik tidak dimaksudkan sebagai upaya untuk merebut kekuasaan, tetapi memiliki makna yang luas bagi upaya gerakan ini dalam menggarap bidang sosial kemasyarakatan. Dengan dasar tersebut, Muhammadiyah terlibat dalam dinamika politik. Keterlibatan itu memiliki kaitan langsung dengan orientasinya pada lapangan sosial yang digarapnya.

Ketika pemerintah Hindia Nederland mengambil kebijakan diskriminatif terhadap Islam, Muhammadiyah merespons secara kritis dengan tetap mengedepankan sikap moderat. Muhammadiyah memberikan reaksi keras terhadap kebijakan pemerintah yang membiarkan kegiatan misi Katolik dan zending Protestan melakukan kegiatan di hampir seluruh wilayah kekuasaan pemerintah dan juga terhadap kebijakan memberikan subsidi yang tidak proporsional antara sekolah Kristen dan sekolah-sekolah yang dikelola pribumi dan muslim. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah mengambil kebijakan yang kontras dengan sikap umat Islam lain, terutama dalam soal menerima subsidi pemerintah untuk sekolah-sekolah yang dikelolanya. Ketika SI dan Taman Siswa menolak subsidi, sikap menerima subsidi disebut “a-nasionalis”.

Sikap kooperatif dan akomodatif terhadap pemerintah ditandai dengan kesediaan Muhammadiyah menerima subsidi untuk sekolah-sekolah yang dikelolanya. Atas sikap ini, Muhammadiyah dituduh oleh sesama gerakan Islam dan kebangsaan sebagai sikap yang a-nasionalis atau bahkan antinasionalis.

Muhammadiyah berkeyakinan bahwa misi 14116421492082807900besar untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya diperlukan aliansi dengan berbagai kalangan termasuk pemerintah. Hal ini penting mengingat aktivisme sosialnya bergantung pada regulasi dan kebijakan pemerintah. Bagaimanapun, sikap netral ini dalam perkembangannya mengalami dialektika, terutama ketika iklim politik memungkinkan bagi keterlibatan gerakan Islam tentu peluang tersebut dimanfaatkan sebagai dakwah. Ketika mengambil sikap netral terhadap politik, gerakan ini memainkan peran-peran politiknya melalui lobi-lobi kepada pemerintah dan kekuatan politik.

Aktivisme politik diperlukan untuk mempermudah kerja dakwahnya. Bagaimanapun, Muhammadiyah berhasil dalam menjalankan aktivitas sosial kemasyarakatan. Namun, apabila negara (pemerintah) membuat regulasi yang membatasi kiprah dan bahkan mengooptasi aktivismenya, tentu hal ini tidak banyak memberikan manfaat bagi kepentingan Muhammadiyah.

Pendirian netral terhadap politik dengan tidak mengistimewakan atau melebihkan partai tertentu dan mengabaikan yang lain, sembari memberi kebebasan kepada setiap warganya untuk terlibat ataupun tidak dalam politik kepartaian merupakan sikap moderat Muhammadiyah. Gerakan ini menghormati partai-partai yang ada secara wajar dan sepadan. Muhammadiyah sendiri akan terus mengembangkan peran sertanya dalam melaksanakan kewajiban tertentu untuk mempertahankan keselamatan Tanah Air.

Strategi sosiokultural yang dipilih Muhammadiyah dianggap sudah tepat untuk menjaga organisasi dari pengaruh-pengaruh partai politik. Namun, orientasi sosiokultural semata, dalam konteks perubahan politik dan relasi-relasi lembaga kenegaraan yang semakin baik, kurang strategis, sehingga partisipasi politik Muhammadiyah dalam memengaruhi proses politik tidak akan memadai. Prinsip netral partai yang dipilih Muhammadiyah, khususnya pada masa otoriter, dianggap tepat. Namun, sikap tersebut belum tentu strategis dalam periode politik yang lebih demokratis.

Sesuai kecenderungan perubahan, kelompok-kelompok kepentingan lebih mementingkan aspirasi kelompoknya daripada memikirkan dan mengakomodasi aspirasi kelompok lain, tidak sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan rakyat. Akibatnya, sikap netral terhadap politik menjadi kurang strategis.
Usaha Muhammadiyah tetap menjaga identitasnya sebagai gerakan sosiokultural dan ingin menjadi tenda bangsa sudah tepat karena, dengan cara itu, organisasi ini dapat memperkuat identitasnya sebagai kekuatan civil society, mesti tetap perlu juga memikirkan alternatif partisipasi politik yang signifikan dalam proses politik Indonesia.

Besarnya Muhammadiyah dalam berbagai segi dan juga dengan keluasan ruang geraknya membuat daya tekan politik (political leverage) perserikatan ini dalam kancah politik nasional tidak bisa diabaikan. Meskipun, sekali lagi, ia bukanlah organisasi politik. Walau begitu. Muhammadiyah seyogianya tidak tampil “terlalu politis” dalam berbagai perkembangan dan dinamika politik nasional. Sebaliknya, Muhammadiyah mesti senantiasa lebih menampilkan diri sebagai civil society dan interest group, yang sekaligus memainkan peran sebagai pressure grdup (kelompok penekan).

Salah satu faktor kebertahanan dan keberhasilan Muhammadiyah sepanjang sejarah dalam menjalankan misinya adalah kemampuannya memelihara jarak (disengagement) dengan negara, kekuasaan (power), dan politik sehari-hari (day-to-day politics). Muhammadiyah dalam banyak perjalanan sejarahnya cenderung melakukan “political disengagement”, menghindarkan diri dari keterlibatan langsung dalam politik, apakah “politik negara” (state politics) maupun “politik kepartaian” (party politics), atau politik kekuasaan (power politics). Dengan watak seperti itu, Muhammadiyah dapat terhindar dari kooptasi negara atau, lebih parah lagi, bahkan menjadi bagian dari negara itu sendiri. Begitu pula dengan sikap Muhammadiyah yang mengambil jarak dengan parpol-parpol sehingga tidak terjadi identifikasi Muhammadiyah dengan parpol tertentu. Hasilnya, Muhammadiyah dapat memelihara karakter dan mu-ruah-nya sebagai organisasi civil society.

Sebaliknya, dalam ekspresinya sebagai organisasi civil society vis-a-vis negara, Muhammadiyah tidak menjadikan dirinya sebagai “altematif bagi negara”, berusaha menumbangkan kekuasaan negara untuk kemudian menjadi tulang punggung baginegara itu sendiri. Namun, Muhammadiyah lebih cenderung akomodatif terhadap negara. Meskipun, dalam kasus-kasus tertentu. Muhammadiyah melakukan resistansi sangat kuat terhadap negara, seperti dalam hal asas tunggal Pancasila pada paro pertama dasawarsa 1980-an. Dengan demikian, ekspresi dan aktualisasi civil society Muhammadiyah berbeda dengan pemahaman klasik dan kovensional tentang civil society yang dipandang sebagai gerakan dan kelompok oposisional yang bertujuan menumbangkan rezim yang berkuasa.

Dengan dakwah amar ma ma’ruf nahi mungkar dalam arti dan proporsi yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah harus dapat membuktik20140914_115010an secara teoritis konsepsionil, secara operasionil dan secara kongkrit riil, bahwa ajaran Islam mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera, bahagia, materiil dan spirituil yang diridlai Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Aamiiin. Semoga Allah meridhoi.

Disusun oleh : IMAM YUDHIANTO SOETOPO, SH. (anggota majelis HUKUM dan HAM PDM Magetan)

Oleh : IMAM YUDHIANTO S, SH, SE, MM (Ketua Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama PDPM Magetan 2010-2014)

IMG_20150509_183001

KENYATAAN YANG TIDAK TERPUNGKIRI

Bak habis jatuh ketiban tangga, Indonesia diguncang bencana moral sejalan dengan guncangan krisis ekonomi dan krisis multidimensi lainnya. Hari ini pemuda sudah semakin laten menjadi mangsa tangan-tangan kotor tak bertanggung jawab. Demi rupiah dan kemenangan ideologi, para musuh musuh Islam rela menghancurkan masa depan para pemuda.

Sebut saja permaianan judi, rokok, minum-minuman keras, seks bebas dan narkoba selalu menjadi ancaman yang tiada pernah berhenti. Belum lagi pengaruh pemahaman sesat dan menyesatkan, mulai dari komunisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme, hingga pemahaman sekte syi’ah yang telah difatwa haram dan sesat oleh MUI, semua siap menerkam otak, pemikiran dan pandangan hidup para pemuda.

Ditilik dari angka dan tingkat kriminalitas, keadaan Indonesia sudah pada ambang batas bahaya dimana tindak kejahatan sudah melebihi batasan nalar. Gambaran kasus-kasus tindak kejahatan kian memprihatinkan, bahkan dapat dinilai tidak berprikemanusian apalagi landasan agama. Contohnya seperti kejadian menghilangkan nyawa manusia, seakan dilakukan semudah membunuh serangga, tindak pelecehan kekerasan seksual kini sudah sampai tingkat mengincar balita, kekerasan dalam rumah tangga kerap kali berujung maut, pelaku tindak pidana sudah sampai menghinggapi kalangan anak anak, dan contoh-contoh lainnya yang membuat miris hati dan tetesan air mata tanda prihatin. Apa yang terjadi dihadapan mata kita telah membuktikan bahwa ada yang salah dengan bangsa ini. Moral dan akhlak bangsa ini jelas-jelas sudah rusak.

Menanggapi apa yang terjadi apakah bangsa ini hanya akan berdiam diri, hanya memfokuskan perbaikan di sektor ekonomi, namun mengorbarkan jati diri dari sesosok manusia yang mengarah sifat dan tingkah lakunya berevolusi seperti binatang. Ironis memang, disaat perekonomian ingin didongkrak dengan berbagai dukungan, baik financial, fasilitas, infrastruktur dan stakeholders yang loyal dan hebat,  di sisi lain justru pendidikan agama yang benar sebagai ujung tombak perbaikan moral, dianggap sebagai bahaya laten ideologi negara. Para aktivis islam dituduh teroris, porsi anggaran pengembangan agama diminimalisir, dan sebagian besar kegiatan penguatan aqidah dicurigai. Quo vadis pembangunan moral dan karakter generasi bangsa?

 

MERINDUKAN SOSOK PEMUDA ISLAM

Saat ini ada sebuah pertanyaan yang selalu menunggu untuk dicari jawabannya adalah dimanakah para pemuda islam itu sekarang? Dimanakah mereka bersembunyi? Apakah mereka bersembunyi seperti yang dilakukan Ashabul Kahfi?

Mereka tidak lagi seperti pelangi yang selalu memberikan warna warni yang indah dalam kehidupan, mereka kini hilang ditelan zaman. Budaya hidup western sepertinya lebih mendominasi dan mudah diterima, sementara budaya timur dan berbau agama dianggap kuno. Gaya hidup, pakaian, bahasa, jauh dari norma, seolah semua keinginan mereka harus dilampiaskan dengan tawuran, budaya hidup hedonis, foya-foya dan sedikit tidak beradab. Hidup bagaimanakah sebenarnya yang mereka cari?

Islam begitu mengambil perhatian yang besar terhadap pemuda, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR. al-Bukhari no.1357)

Islam tidak membiarkan pemuda lepas kendali tanpa arahan, meskipun memang harus diakui bahwa hidup di zaman modern dan serba canggih ini tidaklah mudah, banyak sekali godaan bagi pemuda untuk memperturutkan hawa nafsunya, dengan segala fasilitas yang mudah dan instant membuat para pemuda islam terlena, tidak menyadari bahwa musuh-musuh Islam sedang mengintai mereka, melihat kelengahan mereka dan suatu saat bisa menerkam dan memenjarakan mereka dalam api penyesalan seumur hidupnya.

Pemuda adalah asset paling berharga bagi setiap Negara terutama agama, mereka harus bisa memilih dan menentukan nasib mereka, karena jika pemuda itu baik, maka akan baiklah Negara dan agamanya, Insyaallah, biidznillah.

Islam selalu membimbing para pemudanya untuk kreatif, aktif dan optimis, sebuah pepatah islam mengatakan: “Bukanlah pemuda jika ia mengatakan inilah ayahku…akan tetapi pemuda adalah yang mengatakan inilah aku inilah diriku.” Kemandirian yang selalu diharapkan dari seorang pemuda, tidak hanya pandai menggunakan fasilitas yang sudah tersedia, namun seharusnya pandai menciptakan peluang dan kesempatan menjadi sebongkah berlian. Pada dasarnya kita merindukan pemuda yang penuh dedikasi untuk orang tuanya, agama, bangsa yang semakin terpuruk ini, bukan pemuda yang tidak punya adab, selalu pesimis dan hedonis, yang pada akhirnya hanya menjadi beban, menguras fikiran dan tenaga dan berujung pada hancurnya sebuah Negara.

Pemuda Muhammadiyah adalah bagian tak terpisahkan dari Pemuda Islam yang ada di Indonesia. Pemuda Muhammadiyah adalah anak Kandung dari Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 26 Dzulhijjah 1350 Hijriyah bertepatan dengan 2 Mei 1932 Miladiyah dan Pimpinan Pusatnya berkedudukan di Ibu Kota Negara Repubik Indonesia.

Lalu Bagaimana peran organisasi yang berlambang Melati ini dalam menghadapi kondisi bangsa sebagaimana dipaparkan di atas?  Benarkah Pemuda Muhammadiyah telah berbuat optimal dalam melayani umat dan bangsa ini? Ataukah kehadirannya hanya sekedar pelengkap di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia?

Dalam menjawabnya maka diperlukan revitalisasi Gerakan Pemuda Muhammadiyah menuju cita dan harapan. Di pundak Pemuda Muhammadiyah tergantung setumpuk harapan. Kerja-kerja nyata Pemuda Muhammadiyah sedang dinantikan. Banyak agenda umat yang harus segera diselesaikan. Tidak ada waktu lagi untuk berpangku tangan.

Saatnya kini Pemuda Muhammadiyah membuktikan dirinya sebagai kader persyarikatan, kader ummat dan kader bangsa.

Dengan sejumlah potensi yang dimilikinya, Pemuda Muhammadiyah memiliki peluang yang cukup besar dalam memperbaiki kondisi yang ada. Sebagai generasi penerus idaman umat, Pemuda Muhammadiyah diharapkan dapat melanjutkan perjuangan dalam menjemput masa depan yang lebih baik. Pemuda Muhammadiyah merupakan salah satu elemen yang menjadi kunci sekaligus penggerak perubahan di seluruh sektor kehidupan.

Agar harapan-harapan besar yang diemban di pundak Pemuda Muhammadiyah dapat diwujudkan ke alam realitas, maka sangat perlu melangsungkan strategi gerakan Pemuda Muhammadiyah sebagai wadah perjuangan bagi para kader-kadernya dalam mempersiapkan pemimpin bangsa masa depan yang tangguh, handal, dan  mampu mengikuti dinamika zaman dalam upaya menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Semoga saja melalui moment penting semacam Musyawarah Daerahhal hal stategis bisa dirumuskan dan direalisasikan.

Selamat Melangsungkan Musyawarah Daerah Pemuda Muhammadiyah Tahun 2016. Semoga Muncul Para Pemimpin yang mencerahkan, visioner, amanah dan tangguh menghadapi tantangan zaman. Aamiin
FASTABIQUL KHAIRAT

AWAS KEBANGKITAN NEO PKI

Posted: 1 Oktober 2015 in Umum

IMAM YUDHIANTO, SH, MM (Pengamat Komunisme – Aktivis Pemuda Muhammadiyah Magetan)

wpid-img-20160506-wa0094.jpgKomunis real is comeback. Komunis nyata sudah kembali. Demikianlah sebuah kalimat sederhana agar mudah difahami oleh warga Indonesia, bahwa ancaman hadirnya gerakan komunis bukanlah sebuah halusinasi belaka, akan tetapi sebuah kenyataan yang ada di depan mata kita.

Sejak awal Kemerdekaan, PKI telah melakukan serangkaian pembantaian di banyak wilayah RI. Mereka tidak segan membunuh untuk merebut kekuasaan. Bukti-bukti otentik kekejaman PKI sesungguhnya sudah tidak terbantahkan. Inilah sejarah kelam Komunisme di Indonesia.

Perjalanan sejarah ideologi Komunis di dunia telah membuktikan selalu melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ideologi yang dikembangkan Karl Mark, Lenin, Stalin, Mao, telah membanjiri jagat raya dengan darah. Buku Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba yang ditulis Taufiq Ismail, menyebutkan setidaknya 100 juta orang lebih dibantai termasuk di Indonesia oleh rejim Komunis dan orang-orang Partai Komunis di Dunia.

palu-arit-putri-indonesia-2015.jpgIdeologi Komunis selalu pada intinya anti Hak Asasi Manusia, anti Demokrasi, dan anti Tuhan. Sebab itu, menjadi ironi apabila masih banyak ”orang dan kelompok masyarakat” yang masih menginginkan paham Komunis berkembang di Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966, namun benarkah PKI sudah mati? Pada masa reformasi pada kenyataannya, para kader PKI dan para simpatisannya berusaha keras memutar-balikan fakta atas segala pelanggaran Hak Asasi Manusia yang telah dilakukan sepanjang sejarahnya di Indonesia.

Dengan dalih ”meluruskan sejarah” mereka membanjiri toko-tokoh buku dengan berbagai jenis buku untuk memutarbalikkan fakta sejarah. Tidak hanya itu, para penggiat Komunisme melakukan provokasi melalui media massa cetak, stasiun televisi, internet, film, musik, diskusi-diskusi, tuntutan hukum, politik, dan selebaran-selebaran -yang pada intinya menempatkan orang-orang PKI dan organisasi sayapnya seperti Gerwani, Pemuda Rakyat, LEKRA, CGMNI, BTI, SOBSI, dan lain-lain, sebagai korban.

510064_620.jpgPadahal, sangat jelas sejak berdiri di Indonesia, Partai Komunis Indonesia telah ”membokong” perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan, Kedaulatan, Kesejahteraan, dan Keadilan Sosial di Republik Indonesia. Lalu mereka menuntut pemerintah meminta maaf kepada mereka.

Berkat perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’alaa Ilah Yang Esa, paham Komunis beserta Partai Komunis Indonesia telah gagal total dalam mencengkeramkan kekuasaannya.

Tetapi, pada akhir-akhir ini seiring dengan kemenangan Jokowi-JK, kini generasi penerus PKI terus berupaya melakukan penyusupan dan mendompleng Partai-partai berkuasa guna menyusun kembali kekuatannya yang telah porak poranda, dan mereka kini bermetamorfosa menjadi gerakan KGB (Komunisme Gaya Baru). Ya kini Komunisme telah kembali mengancam NKRI. Kita dapat merasakan kentalnya keberpihakan kepada Komunis dalam kebijakan-kebijakan Jokowi-JK. Lihatlah kini betapa mesranya hubungan Jakarta-Beijing.

Data dan fakta telah banyak menunjukan bahwa mereka kaum komunis benar-benar ingin memulai menjalankan semua program yang dulu terhenti. Kini para gembong Partai Komunis (PKI) banyak berkeliaran di mana-mana. Pertemuan demi pertemuan, hingga reuni akbar juga telah dilaksanakan untuk mengumpulkan tulang-tulang yang bercecer agar bersatu kembali. Bahaya bukan?

4-pemuda-pki.jpgKemerdekaan sebuah negara adalah nikmat terbesar karunia Allah yang tidak semua manusia dapat merasakannya. Berapa banyak ummat dan bangsa yang mendiami dunia ini semenjak dahulu hingga sekarang, tidak berhenti-henti bejuang hanyalah untuk sesuatu yang dinamakan kemerdekaan. Berjihad dan berkorban dengan jiwa dan raga untuk memerdekakan negara dari belenggu penjajahan adalah di antara sifat-sifat yang mulia dan disanjung  tinggi oleh Islam. Umat islam bersama segenap komponen bangsa telah membuktikan perjuangan mereka dalam merebut kemerdekaan. Dengan Ridho Alloh Azza wa Jalla kemudian tetesan darah para syuhada’ dan para pejuang bangsa inilah maka kita dapat hidup di zaman ini dan merasakan hasil perjuangan mereka. Dalam rangka mensyukuri 70 tahun kemerdekaan Bangsa Indonesia dari cengkeram penjajah kolonial kafir asing sudah selayaknya bangsa Indonesia menegaskan jati dirinya sebagai bangsa yang beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana pengakuan kemerdekaan bangsa ini pada tahun 1945 adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

islam-komunis-palu-arit-mojok.jpgImplementasi rasa syukur bangsa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa adalah dengan menegaskan keyakinan akan keberadaan dan kemahakuasaan Allah, Robb Yang Maha Esa dan Kuasa, yang berdaulat di seluruh langit dan bumi termasuk di atas bumi Indonesia dan di bawah langit Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya seluruh umat manusia yang pandai bersyukur kepada Allah yang telah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla,  dengan mengimani-Nya, mentauhidkan-Nya, dan mematuhi segala perintah/larangan-Nya.

Perjalanan perjuangan Kemerdekaan Indonesia memang tidak semulus yang dibayangkan, banyak torehan pahitnya sejarah kemerdekaan bangsa ini. Ketentraman bangsa Indonesia dalam menikmati kemerdekaannya, berkali kali harus tergores tajamnya pisau pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa oknum putra bangsa yang telah berubah pikir dalam cara pandang atau orientasi tujuan negara dan ideologi. Sebut saja PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan ciri gerakan sosial politik berazaskan ideologi komunisme yang berkiblat kepada rusia dan memiliki ajaran yang menentang keberadaan dan kemahamakuasaan Allah, sebagai satu satunya Ilah (sesembahan) Yang Esa.

PKI dalam lintasan sejarah terbentuknya NKRI dan perjalanannya hingga hari ini telah terbukti melakukan pengkhianatan dan upaya pemberontakan dalam rangka membentuk Negara komunis di Indonesia yang mengubah dasar Negara dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar kepercayaan ketiadaan Tuhan atau atheism. Dalam hal pengkhianatan terhadap NKRI, PKI telah melakukan serangkaian tindakan kekerasan dan pembunuhan kepada para alim ulama dan banyak aktivis Islam, mereka juga telah melakukan serangkaian pembantaian kepada rakyat sipil yang mencoba melakukan penentangan di beberapa wilayah RI. Mereka tidak segan membunuh untuk merebut kekuasaan. Bukti-bukti otentik kekejaman PKI sesungguhnya sudah tidak terbantahkan, dan menjadi bagian sejarah kelam Komunisme di Indonesia.

573440cc97987-stiker-bergambar-palu-arit-yang-menyebar-di-palembang-sumatera-selatan_641_452.JPGPerjalanan sejarah ideologi Komunis di dunia telah membuktikan selalu melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Ideologi yang dikembangkan Karl Mark, Lenin, Stalin, Mao, telah membanjiri jagat raya dengan darah. Buku Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma Stalinisma Maoisma Narkoba yang ditulis Taufiq Ismail, menyebutkan setidaknya 100 juta orang lebih dibantai termasuk di Indonesia oleh rejim Komunis dan orang-orang Partai Komunis di Dunia. Ideologi Komunis selalu pada intinya anti Hak Asasi Manusia, anti Demokrasi, dan anti Tuhan. Sebab itu, menjadi ironi apabila masih banyak ”orang dan kelompok masyarakat” yang masih menginginkan paham Komunis berkembang di Indonesia.

Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah dibubarkan pada tanggal 12 Maret 1966, namun benarkah PKI sudah mati? Pada masa reformasi pada kenyataannya, para kader PKI dan para simpatisannya berusaha keras memutar-balikan fakta atas segala pelanggaran Hak Asasi Manusia yang telah dilakukan sepanjang sejarahnya di Indonesia.

Dengan dalih ”meluruskan sejarah” mereka membanjiri toko-tokoh buku dengan berbagai jenis buku untuk memutarbalikkan fakta sejarah. Tidak hanya itu, para penggiat Komunisme melakukan provokasi melalui media massa cetak, stasiun televisi, internet, film, musik, diskusi-diskusi, tuntutan hukum, politik, dan selebaran-selebaran -yang pada intinya menempatkan orang-orang PKI dan organisasi sayapnya seperti Gerwani, Pemuda Rakyat, LEKRA, CGMNI, BTI, SOBSI, dan lain-lain, sebagai korban.

Padahal, sangat jelas sejak berdiri di Indonesia, Partai Komunis Indonesia telah ”membokong” perjuangan Bangsa Indonesia dalam menegakkan Kemerdekaan, Kedaulatan, Kesejahteraan, dan Keadilan Sosial di Republik Indonesia. Lalu mereka menuntut pemerintah meminta maaf kepada mereka.

Ribka-Tjiptaning-Anak-PKI-di-PDIP.jpg

Berkat perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’alaa, Tuhan Yang Esa, paham Komunis beserta Partai Komunis Indonesia telah gagal total dalam mencengkeramkan kekuasaannya. Tetapi, pada akhir-akhir ini, generasi penerus PKI terus berupaya melakukan penyusupan dan mendompleng Partai-partai berkuasa guna menyusun kembali kekuatannya yang telah porak poranda, dan mereka kini bermetamorfosa menjadi gerakan KGB (Komunisme Gaya Baru).  Keberanian mereka nampak lebih fenomenal dengan bangganya mereka memakai pakaian dengan atribut bergambarkan “Palu Arit”. Yang memakai mulai dari kalangan petani, buruh pabrik, mahasiswa hingga kalangan selebritis, dan yang terakhir dihebohkan dengan baju bersimbolkan “palu arit” yang dikenakan oleh putri indonesia. Beberapa kalangan sudah tidak canggung lagi untuk membanggakan simbol simbol tersebut. Sampai sampai beberapa anggota parlemen politikus senayanpun menulis buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” , yang seakan menjadi pembenaran terhadap gerakan gerakan makar PKI kepada Negara dan Ummat Islam.

Jokowi-akan-minta-maaf-pada-keluarga-PKI.jpg

Disadari atau tidak Komunisme telah kembali mengancam NKRI. Kita dapat merasakan kentalnya keberpihakan kepada Komunis dalam kebijakan-kebijakan Pemerintah hari ini. Lihatlah kini betapa mesranya hubungan Jakarta-Beijing.

Para ulama mensinyalir terdapat upaya – upaya pemutarbalikan fakta yaitu dengan menjadikan PKI (Partai Komunis Indonesia) beserta anggota dan simpatisannya adalah merupakan korban kejahatan oleh Negara, TNI dan Umat Islam. Pandangan dan serbuan informasi yang memposisikan PKI beserta anggota dan simpatisan adalah korban telah disebarluaskan secara massif, sistematis dan terstruktur melalui berbagai sarana, mulai dari media massa, baik cetak maupun elektronik. Upaya rekonstruksi sejarah keganasan dan kebiadaban PKI ini, bahkan mulai masuk ke dalam kurikulum pendidikan dengan menghapus berbagai mata pelajaran yang menggambarkan kekejaman PKI. Saat ini, informasi yang disebarkan adalah seolah – olah PKI dan kaum komunis bersikap pasif dan hanya merupakan kambing hitam politik semata, tanpa menyebut satupun aksi – aksi sepihak dari PKI beserta simpatisannya dalam melakukan terror kepada rakyat Indonesia dan ulama. Agenda utama rekonstruksi sejarah dengan memposisikan PKI sebagai pelaku kejahatan menjadi seolah PKI korban kejahatan, adalah untuk melegalkan ideolog komunis berkembang di Indonesia dan membangkitkan kekuatan politik komunis baik dalam bentuk Partai maupun organisasi massa. Hal ini adalah tentu sangat membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

15e4bb65-dd23-4984-957a-b4f1dbb3e8fe_169.jpgBahkan ditemukan fakta, bahwa saat ini, para pendukung PKI beserta simpatisan dan keluarganya tengah melakukan konsolidasi kekuatan melalui berbagai cara dan sarana, yang diantaranya adalah melalui Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 (YPKP 65) maupun Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba). Yayasan komunis yang berkedok kemanusiaan ini jelas dan terang benderang memiliki agenda untuk merekonstruksi sejarah serta melakukan gerakan politik yang berbasiskan ideologi komunisme yang dikamuflase sebagai ideologi MDH (Materialisme Dialektika Historis), dan juga melakukan regenerasi dan kaderisasi guna menyebarluaskan ideologi komunisme dikalangan anak muda. Hal ini berarti kaum Komunis di Indonesia kembali menggunakan taktik gerakan bawah tanah atau kamuflase politik dalam menyebarkan Ideologi Komunis sekaligus membangun kekuatan politik melalui mantel kemanusiaan. Mereka juga berjuang keras untuk mencuci dosa sejarah PKI melalui pintu masuk atau menunggangi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, melalui sarana politik hukum ini, simpatisan PKI dan keluarganya serta kaum neo komunis, berusaha untuk memperoleh posisi politik serta melakukan politik balas dendam terhadap TNI dan umat Islam.

Dalam dokumen YPKP 65, jelas termuat agenda politik bahwa Komisi Kebenaran dan Rekonsialiasi ini adalah cara paling halus yang digunakan oleh eks anggota PKI, keluarga maupun simpatisannya guna menghidupkan kembali Ideologi komunis dan membangkitkan kembali PKI. Dengan menunggang agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ini kaum Komunis Indonesia tengah menampilkan Komunisme yang berwajah humanis untuk menarik simpati rakyat dan memanipulasi umat. Titik tolak kaum komunis dalam agenda Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ini adalah semata – mata mengungkap peristiwa pasca pembunuhan 6 jenderal, tanpa mengungkap peristiwa tahun tahun sebelumnya, dimana PKI merajalela melakukan teror politik bahkan menbunuh rakyat, umat Islam dan Ulama serta lawan politiknya. Peristiwa pasca pembunuhan 6 Jenderal inilah yang menjadi tujuan kaum komunis untuk disebut sebagai “kebenaran” dengan mengabaikan kebenaran sejarah perilaku teror dan pembunuhan politik PKI beberapa tahun sebelumnya. Sementara istilah Rekonsiliasi yang dimaksud oleh kaum komunis Indonesia adalah diterimanya serta dilegalkannya ajaran komunisme serta diihidupkannya kembali Partai Politik Komunis di Indonesia.

maxresdefault.jpgGerakan mengembalikan ideologi komunisme dan pemutarbalikan sejarah ini memanfaatkan kelemahan pemerintahan saat ini, yaitu dengan memanfaatkan sindrom popular demokratik yang tengah menghinggapi para elit politik nasional. Pemanfaatan sindrom popular demokratik yang menjangkiti para elit politik saat ini sangat sejalan dengan agenda kaum komunis internasional yang tengah menjalankan taktik politik “Komunisme Popular Demokratik” untuk menyembunyikan watak dan karakter Totaliter dari idelogi komunis. Mereka berfikir dengan memanfaatkan rezim politik “ elektoral popular demokratik” saat ini, kaum komunis Indonesia dapat melakukan infiltrasi ke seluruh lini pemerintahan baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, baik nasional maupun level politik elektoral lokal. Hal ini tentu saja akan menjadi bom waktu bagi masa depan politik Indonesia dan merupakan ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam jangka panjang.

Upaya – upaya eks anggota PKI maupun keluarganya beserta pengikut ideologi komunisme di Indonesia untuk ngotot memaksakan keberadaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi melalui proses legislasi, hanya akan menguras energi bangsa dan menjebak kehidupan berbangsa dan bernegara kepada persoalan masa lalu yang akan menghalangi kemajuan kehidupan bangsa dan bernegara. Potensi gesekan antar komponen masyarakat maupun benturan fisik di level grass root akan membelenggu rakyat dari kemajuan dan kembali membuka luka lama umat Islam yang menjadi korban teror dan pembunuhan politik yang dilakukan oleh PKI.

partai-komunis-cina-_120629194824-947.jpg

Dalam sebuah buku saku berjudul Tiga Dusta Raksasa Palu Arit Indonesia: Jejak Sebuah Ideologi Bangkrut di Pentas Jagad Raya, (Jakarta: Titik Infinitum, 2007), Taufiq Ismail menyajikan data yang menarik. Taufiq menyatakan bahwa Komunisme adalah ideologi penindas dan penggali kuburan massal terbesar di dunia. Dalam mengeliminasi lawan politik, kaum komunis telah membantai 120 juta manusia, dari tahun 1917 sampai 1991. Itu sama dengan pembunuhan terhadap 187 nyawa per jam, atau satu nyawa setiap 20 detik. Itu dilakukan selama ¾ abad (sekitar 75 tahun) di 76 negara. Karl marx (1818-1883) pernah berkata: “Bila waktu kita tiba, kita tak akan menutup-nutupi terorisme kita.”

Vladimir Ilich Ullyanov Lenin (1870- 1924) juga menyatakan: “Saya suka mendengarkan musik yang merdu, tapi di tengah revolusi sekarang ini, yang perlu adalah membelah tengkorak, menjalankan keganasan dan berjalan dalam lautan darah.” Satu lagi tulisannya: “Tidak jadi soal bila ¾ penduduk dunia habis, asal yang tinggal ¼ itu komunis. Untuk melaksanakan komunisme, kita tidak gentar berjalan di atas mayat 30 juta orang.”

Lenin bukan menggertak sambal. Semasa berkuasa (1917-1923) ia membantai setengah juta bangsanya sendiri. Dilanjut kan Joseph Stalin (1925-1953) yang menjagal 46 juta orang; ditiru Mao Tse Tung (RRC) 50 juta (1947-1976); Pol Pot (Kamboja) 2,5 juta jiwa (1975-1979) dan Najibullah (Afghanistan) 1,5 juta nyawa (1978-1987). Buku saku lain tentang komunis me yang ditulis oleh Taufiq Ismail adalah Komunisme=Narkoba dan Komunis Bakubunuh Komunis, serta Karl Marx, Tukang Ramal Sial yang Gagal (Jakarta: Infinitum, 2007).

Dari berbagai fakta singkat yang disebutkan di atas, sudah sepatutnya bangsa Indonesia mau belajar dari sejarah. Ketika agama dibuang; Tuhan disingkirkan, jadilah manusia laksana binatang. Anehnya, kini ada yang mulai berkampanye tentang perlunya “kebebasan beragama” harus mencakup juga “kebebasan untuk tidak beragama”. Dalam kondisi seperti ini, Islam (kaum muslimin) dan kekuatan anti-komunisme lainnya, diharapkan memainkan perannya yang signifikan. Jangan sampai elite-elite muslim lupa diri, sibuk memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya, sibuk saling caci dan jegal, di sisi lain tanpa sadar komunisme dalam “jubah barunya” semakin mendapat simpati masyarakat.  Na’udzubillahi min dzalik.

432596_620.jpg

Di momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2015 ini, kita harus tetap mawas diri terhadap bahaya laten Komunis PKI. Keberanian untuk menegakkan kebenaran sejarah kelam PKI harus tetap dibangkitkan. Penjagaan Aqidah generasi muslim dari berbagai penyimpangan ideologi dan pemikiran komunisme, harus terus digalakkan.

Dan sebagai umat yang beriman sudah semestinya kita terus bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan dan kebebasan beribadah sesuai dengan keyaqinan kita. Marilah kita ciptakan suasana kehidupan masyarakat yang bertaqwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar terbuka pintu-pintu keberkahan bagi kehidupan di negeri ini sebagaimana firman Allah Ta’alaa :“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS. Al A’raf 96).

Teruntai doa, semoga Negeri ini dan Umat Islam tetap dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan Allah Azza wa Jalla, tetap jaya dan menjadi baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur.

MENCARI SOLUSI PERMASALAHAN UMMAT

Posted: 25 Februari 2015 in Oase Imani

Ditulis oleh : IMAM YUDHIANTO S., SH, SE, MMIMG02149-20130404-1609

Abad ke 15 Hijriah ini pernah disebut sebagai abad kebangkitan Islam, dengan harapan bisa menggerakkan semangat dan usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam. Namun sampai saat ini kondisi ummat Islam masih terpuruk, bahkan secara umum realitanya ummat ini masih dalam kondisi “terjajah”. Musibah silih berganti menimpa kaum muslimin. Baik mushibah pada lemahnya aspek ideologi pemikiran, politik, sosial, ekonomi dan dalam bidang-bidang yang lainnya.

Realita ini mengharuskan kita semua untuk berpikir keras mencari solusi permasalahan. Banyak analisis yang diberikan beberapa pihak untuk mengidentifikasi problem yang sebenarnya dihadapi oleh kaum muslimin. Jika identifikasi yang diajukan tidak tepat, tentu solusi yang ditawarkan juga tidak pas.

Ada yang mengatakan bahwa problema ummat Islam yang paling mendasar adalah konspirasi musuh-musuh Islam yaitu orang-orang kafir dan kemenangan orang kafir atas kaum muslimin. Pihak pertama ini menawarkan solusi berupa menyibukan kaum muslimin dengan strategi-strategi orang-orang kafir, perkataan dan penegasan mereka.

Ada juga yang mengatakan bahwa permasalahan kaum muslimin yang paling pokok adalah berkuasanya para pemimpin yang zalim di berbagai negeri kaum muslimin. Sehingga pihak kedua ini menawarkan solusi berupa upaya menggulingkan pemerintahan yang ada dan menyibukkan kaum muslimin dengan hal ini.

Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa masalah kita yang paling pokok adalah perpecahan kaum muslimin. Oleh karenanya solusi tepat adalah menyatukan kaum muslimin sehingga kaum muslimin unggul dalam kuantitas.

Ada juga analisis keempat. Analisis ini mengatakan bahwa penyakit akut ummat ini adalah meninggalkan jihad sehingga obat penyakit ini adalah mengibarkan bendera jihad dan menabuh genderang perang melawan orang-orang kafir.

Marilah kita telaah bersama pendapat-pendapat di atas dengan dua panduan kita yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.  Terkait dengan pendapat pertama, kita jumpai firman Allah,“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali Imran: 120). Ayat di atas dengan tegas menunjukkan bahwa jika kita benar-benar bertakwa kepada Allah maka konspirasi musuh bukanlah ancaman yang berarti.

Tentang pendapat kedua, kita jumpai firman Allah,“Dan demikianlah, kami jadikan orang yang zalim sebagai pemimpin bagi orang zalim disebabkan maksiat yang mereka lakukan.” (QS. Al An’am: 129). Ayat ini menunjukkan bahwa penguasa yang zalim hukuman yang Allah timpakan kepada rakyat yang juga zalim disebabkan dosa-dosa rakyat. Jika demikian, penguasa yang zalim bukanlah penyakit bahkan penyakit sebenarnya adalah keadaan rakyat.

Sedangkan untuk pendapat ketiga kita dapati firman Allah,“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.” (QS. At Taubah: 25). Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dan jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat jika kemaksiatan tersebar di tengah-tengah mereka. Kita lihat dosa ujub telah menghancurkan faedah dari jumlah yang banyak sehingga para shahabat menuai kekalahan pada saat perang Hunain. Di antara maksiat adalah menyatukan barisan bersama orang-orang yang membenci sunnah Nabi karena sikap tepat terhadap mereka adalah memberikan nasihat, bukan mendiamkan kesalahan. Sikap minimal adalah mengingkari dengan hati dalam bentuk tidak menghadiri acara-acara yang menyimpang dari sunnah bukan malah menikmati.

Untuk pendapat keempat kita katakan bahwa jihad itu bukanlah tujuan namun yang menjadi tujuan adalah menegakkan agama Allah di muka bumi. Oleh karena itu, ketika kaum muslimin lemah dari sisi agama dan persenjataan maka menabuh genderang perang pada saat itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Oleh karena itu, Allah tidak mewajibkan jihad kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau masih berada di Makkah dikarenakan berperang ketika itu lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya.

Oleh karena itu, identifikasi yang tepat untuk penyakit yang membinasakan ummat dan menjadikan kaum muslimin terbelakang adalah DOSA-DOSA KITA SENDIRI. Banyak dalil dari al Qur’an yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah firman Allah,“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 165)

Oleh sebab itu, obat yang mujarab adalah membersihkan diri kita dan seluruh ummat dari dosa. Yaitu dengan memohon ampun dan bertaubat dengan sungguh sungguh kepadaNya agar kita selamat dari segala bentuk kehancuran, kehinaan dan kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman : “Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS. Az Zumar: 53-54)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Ibnu ‘Umar, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah (riba) dan kalian telah memegang ekor-ekor sapi (kiasan untuk kekuasaan yang zhalim), serta kalian lebih cinta (ridha) kepada pertanian (dunia) dan kalian tinggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kerendahan, tidak akan dicabut kerendahan itu sampai kalian mau kembali kepada agama kalian” [Al-Imam Abu Daud dalam Sunan-nya (3/740)].

Maka satu-satunya jalan keluar dari kerendahan dan kehinaan ini adalah dengan bertaubat dan kembali kepada syari’at Allah Ta’ala, beramal dengannya. Kita harus berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengembalikan ummat kepada panduan hidup mereka yaitu Al Qur’an dan sunnah Rasul sebagaimana pemahaman salaf. Kita habiskan umur dan harta kita untuk menegakan bendera tauhid dan sunnah dan menghancurkan bendera syirik dan bid’ah dengan berbagai sarana dan media yang kita miliki.

Jika bendera tauhid dan sunnah telah tegak berkibar dan bendera syirik dan bid’ah hancur maka saat itu kita berhak mendapatkan janji Allah yaitu kemenangan dan kebahagiaan. Kita harus yaqin bahwa menegakkan tauhid dan sunnah merupakan tujuan diutusnya para rasul dan para nabi, dan diturunkannya kitab-kitab suci dari langit, dan faktor terbesar untuk meraih kejayaan, mengangkat kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan kaum muslimin.  Allah berfirman : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Yaitu mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur : 55).

Allah juga telah berfirman : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf : 96)

Syaikh Abdurrahman As-Si’di menjelaskan: “Allah mengabarkan bahwa sekiranya penduduk suatu negeri beriman dengan hati dan dengan keimanan yang jujur serta dibenarkan oleh perilaku, mereka mengenakan pakaian ketaqwaan pada Allah baik lahir lahir batin juga meninggalkan seluruh apa yang diharamkan Allah, tentu Dia akan membukakan keberkahan-keberkahan langit dan bumi kepada mereka. Allah akan mengirimkan hujan lebat dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di muka bumi yang dengannya mereka (penduduk negeri) dan hewan-hewan ternak dapat melangsungkan kehidupan dalam kesejahteraan hidup dan kelimpahan rizki, tanpa kesukaran, capek, kepayahan, dan jerih payah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga mengatakan : “Siapa saja yang memperhatikan kondisi alam semesta maka ia akan dapati bahwa segala keberkahan yang ada di bumi sebabnya karena: Mentauhidkan Allah dan menyembahNya Serta mentaati Rasulullah. Dan setiap kerusakan di alam semesta ini, timbulnya fitnah, bala musibah, kekeringan, penjajahan musuh dan sebagainya itu disebabkan karena: Menyelisihi Rasulullah dan Berdoa kepada selain Allah”. (Al-Fatawa: 15/ 25)

Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Namun, sangat disayangkan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang ini tidak mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Padahal tauhid inilah yang akan menyelamatkan mereka dan menjadikan mereka selamat dan terlepas dari berbagai problem serta permasalahan di dunia dan di akhirat.

Semoga Allah menghidupkan kita di atas tauhid dan mematikan kita di atasnya. Semoga Allah segera menolong kaum muslimin dari keterpurukannya, kelemahannya, dan dari himpitan segala permasalahan.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat.

 

Aktivis adalah ….

Posted: 17 Oktober 2014 in Info Terbaru

“Aktivis adalah orang yang terpanggil untuk memperjuangkan nilai-nilai dan keyakinan. Seorang aktivis adalah orang yang melakukan berbagai kegiatan dalam rangka mencapai keyakinan dan tujuan yang dicita-citakannya.”

“Seorang aktivis rela berkorban dalam rangka perwujudan kehidupan masyarakat. Ia rela jatuh bangun demi impiannya tentang kondisi kehidupan yang lebih baik. Seorang aktivis seringkali adalah seorang yang bersedia mendapatkan balas jasa alakadarnya, yang penting harapan keadaan yang berubah segera terealisir.”

“Aktivis adalah seseorang yang bergerak karena pecut kepedulian dan goresan hati atas derita masyarakat yang tidak mampu. Aktivis dengan penuh gairah dan pengorbanan mengupayakan perbaikan nasib orang-orang miskin.mereka adalah orang orang yang dengan gelora berkobar-kobar menyadarkan orang-orang berpunya agar senantiasa peduli dan menyisihkan sebagian sumber daya yang dimiliki guna merangkai kehidupan yang seimbang. Melakukan perubahan, melakukan aksi pemberdayaan masyarakat dan pembelaan terhadap hak hak kaum lemah yang selalu tertindas.”

“Aktivis adalah seseorang yang memiliki Iman, keikhlasan, semangat perjuangan dan amal shalih. Para aktivis meyakini bahwa dasar iman adalah hati yang hidup, asas ikhlas ialah hati yang suci murni, landasan semangat yaitu perasaan yang kuat dan amal adalah tekad yang selalu segar “. ALLAH telah berfirman tentang gambaran keadaan para aktivis: “ Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda – pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk. “ (QS. Al Kahfi : 13).”

(diketik oleh Imam Yudhianto Soetopo – dari berbagai sumber)