Penanganan Bencana Berperspektif Gender

Posted: 20 November 2010 in Artikel

Penderitaan kaum perempuan dan anak-anak selama masa bencana tergambar jelas di wajah  media massa. Perempuan mengalami akibat -secara tidak seimbang- kejadian bencana alam, dimana pada umumnya itu adalah sebagai akibat dari status gender mereka di dalam masyarakat. Apa yang media tidak tunjukkan adalah bagaimanapun juga perempuan merupakan bagian penting dalam upaya tanggap darurat dan mitigasi bencana.

Mungkin benar ungkapan Eko Bambang Subiyantoro, aktivis pokja perempuan. Bahwa gambaran perempuan dalam bencana ibarat pepatah : “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”.

Mengapa ungkapan yang tampaknya controversial itu tiba tiba menyeruak? Jawabannya karena situasi bencana/konflik, adalah masa-masa yang paling sulit bagi perempuan. Derita perempuan dalam situasi ini hampir selalu ada dalam dua periode bencana/konflik yang terjadi. Pertama, dalam periode saat bencana/konflik itu berlangsung, dan kedua, ketika bencana/konflik itu berlalu (masa recovery).

Pada saat terjadinya bencana/konflik, situasi perempuan tidak diuntungkan karena posisinya sebagai perempuan. Bencana Alam di Aceh beberapa tahun silam misalkan, masih terbayang bagaimana banyak perempuan dan anak-anak yang menjadi korban keganasan tsunami. Hampir sebagian besar korban tewas perempuan tidak terpisahkan dengan korban anak-anak yang masih kecil atau dalam posisi masih mendekap anak-anaknya. Sejumlah saksi/korban tsunami mengkonfirmasikan bahwa, banyak perempuan yang menjadi korban dan disertai oleh anak-anak karena perempuan karena tidak bisa berlari cepat/meninggalkan rumah tanpa kepastian apakah anak-anaknya sudah selamat atau belum. Perempuan tidak hanya memikirkan bagaimana dia selamat tetapi juga bagaimana dia harus menyelamatkan anak-anaknya. Perempuan tidak kuasa untuk berlari secara cepat karena dia harus menggendong anaknya atau menggandeng anaknya, sementara kecepatan air bah tsunami melebihi kecepatan seorang ibu berlari.

Secara teoritik perhatian terhadap sosok perempuan  dalam situasi bencana alam, banyak memunculkan opini yang memiliki perbedaa perspektif. Beberapa penulis seperti: Enarson, Shrader, Delaney, Byrne,dan Baden; sudah membawa muatan gender dalam menganalisa tanggapan dan mitigasi bencana, dimana beberapa diantaranya menemukan hasil yang sangat menarik, terutama tentang kerentanan seorang perempuan.
Mengapa perempuan lebih rentan? Elaine Enarson (2000) dalam tulisannya yang berjudul Gender and Natural Disasters menyatakan: “… gender membentuk dunia sosial di dalamnya, dimana berbagai peristiwa alam terjadi.” Perempuan ‘dibuat’ menjadi lebih rentan terhadap bencana melalui peran sosial yang mereka bangun. Perempuan memiliki lebih sedikit akses ke sumberdaya, misalnya: jaringan sosial dan pengaruh, transportasi, informasi, keterampilan (termasuk didalamnya melek huruf), kontrol sumberdaya alam dan ekonomi, mobilitas individu, jaminan tempat tinggaldan pekerjaan, bebas dari kekerasan,dan memegang kendali atas pengambilan keputusan. Padahal itu semua penting dalam kesiapsiagaan bencana, mitigasi,dan rehabilitasi.
Perempuan juga menjadi korban pengelompokan gender terkait pekerjaan. Mereka terwakili dalam industri pertanian, wirausaha,dan sektor ekonomi informal; dengan upah kerja dibawah UMR, keamanan kerja yang terbatas, tidak mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan organisasi untuk menyuarakan aspirasinya. Sektor pertanian dan informal pada umumnya yang paling terkena dampak peristiwa bencana alam. Dengan begitu perempuan lebih dari mewakili satu di antara penduduk yang tidak memiliki pekerjaan setelah terjadi bencana.
Perempuan ‘dianggap’ bertanggung jawab terhadap tugas-tugas domestik seperti mengurus anak, orangtua yang berusia lanjut,dan anggota keluarga yang memiliki ketidaksempurnaan fisik/mental. Mereka tidak memiliki kebebasan berpindah tempat untuk mencari pekerjaan setelah mengalami bencana. Laki-laki sering berpindah tempat, meninggalkan rumah tangga yang harus diambil alih tanggungjawabnya oleh perempuan dengan angka statistik yang terus meningkat. Kegagalan untuk mengenali kenyataan ini dimana perempuan mempunyai beban ganda sebagai pekerja produktif dan melanjutkan keturunan berarti bahwa jangkauan penglihatan perempuan dalam masyarakat masih rendah. Perhatian kepada pemenuhan kebutuhan mereka tidaklah cukup bahkan sangat menyedihkan.

Rumah atau tempat tinggal seringkali hancur akibat bencana alam, banyak keluarga yang terpaksa mengungsi ke tempat perlindungan sementara. Keterbatasan fasilitas untuk kehidupan sehari-hari, misalnya aktifitas memasak berarti bahwa beban domestic perempuan bertambah pada saat yang bersamaan dengan beban ekonominya, memfungsikan sedikit kebebasan dan mobilitas yang dimilikinya untuk mencari alternatif sumber pendapatan keluarga. Ketika sumberdaya ekonomi perempuan berkurang, maka posisi tawar mereka di dalam rumahtangga juga terpengaruh secara berlawanan.
Sifat bencana itu sendiri dapat meningkatkan kerentanan perempuan. Tak terkecuali adanya gejala peningkatan perempuan sebagai kepala rumahtangga dan kenyataan bahwa mayoritas penghuni tempat perlindungan sementara adalah kaum perempuan. Beberapa kajian juga menunjukkan adanya suatu peningkatan kekerasan dalam rumahtangga dan kekerasan/pelecehan seksual setelah kejadian bencana alam. Yang tak kalah pentingnya yaitu kesehatan kaum perempuan, khususnya kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual, yang sedari awal harus dikenali sebagai komponen kunci dalam upaya pemberian bantuan/pertolongan setelah bencana. Bagaimanapun juga perhatian kepada mereka tidaklah cukup dan kesehatan perempuan mengalami penderitaan yang tidak sebanding dengan hasilnya.

PEREMPUAN MENYIKAPI BENCANA

Selagi kita melihat perempuan sesungguhnya terkena bencana alam, ini hanyalah separuh gambaran. Bencana alam juga memberikan kesempatan unik kepada perempuan untuk menghadapi tantangan dan mengubah status gender mereka di dalam masyarakat. Perempuan sudah membuktikan bahwa keberadaan dirinya sangat dibutuhkan ketika tiba saatnya untuk memberikan tanggapan atas peristiwa bencana. Pada waktu badai Mitch tahun 1998,perempuan di Guatemala dan Honduras sudah terlihat membangun rumah, menggali sumur dan parit, menyelamatkan persediaan air, dan membangun tempat perlindungan. Meski seringkali harus melawan keinginan laki-laki, perempuan juga rela dan ternyata mampu mengambil peran aktif dalam apa yang secara kebiasaan dianggap sebagai tugas laki-laki. Ini dapat memberikan pengaruh dalam mengubah konsepsi masyarakat terhadap kemampuan perempuan.

Sebagai reaksi atas peningkatan kekerasan yang sarat gender di Nikaragua setelah amukan badai Mitch, sebuah LSM lokal mengkoordinasi suatu kampanye informasi yang menggunakan berbagai macam media untuk menyampaikan satu pesan sederhana  “Kekerasan terhadap perempuan adalah satu bencana dimana laki-laki dapat mencegahnya.” Kampanye tersebut terbukti sangat efektif dalam mengubah sikap laki-laki menuju tindak kekerasan terhadap perempuan.
Setelah peristiwa gempabumi tahun 1985 di kota Meksiko, perempuan Maquiladoras mengorganisir diri mereka ke dalam ‘Serikat Pekerja Garmen 19 September’ yang keberadaannya diakui oleh pemerintah Meksiko dan terbukti menjadi perangkat efektif untuk mempengaruhi pemulihan kesempatan kerja bagi perempuan.
Setelah peristiwa badai Joan,perempuan di Mulukutú, Nikaragua menyusun rencana kesiapsiagaan bencana bagi seluruh anggota keluarganya masing-masing. Hasilnya bisa dilihat bahwa Mulukutú memiliki persiapan yang lebih baik dalam menghadapi badai Mitch dan pemulihannya lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat di wilayah lain yang sama-sama terpengaruh.

Perempuan ternyata paling efektif dalam menggerakkan massa dalam masa tanggap darurat. Mereka membentuk kelompok dan jaringan laksana para aktor sosial yang bekerja untuk memenuhi tekanan kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian masyarakat semacam ini ternyata diperlukan dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Sebagai hasil upaya tanggap bencana yang mereka lakukan, perempuan juga sedang dalam proses mengembangkan keterampilan baru yaitu pengelolaan sumberdaya alam dan pertanian dalam lingkungan yang sesuai, kemudian mereka mentransfernya ke dalam lapangan kerja.

MENANGANI BENCANA ALAM DENGAN PERSPEKTIF GENDER

Dengan cepat setelah terjadi bencana, “kekejaman yang mendesak” bisa berlaku dan perhatian gender dilewatkan atau dilupakan karena dianggap tidak penting. Kesempatan yang unik untuk mengubah peran tradisional gender yang berharga dalam situasi bencana, akan sia-sia jika perempuan tidak berusaha mengambil keuntungan dari situasi tersebut, atau jika pengambil keputusan mengabaikan hal tersebut. Organisasi yang dibentuk kaum perempuan di tingkat lokal dan nasional sangatlah penting jika ukuran pemulihan adalah tanggapan terhadap kebutuhan perempuan dan yang berhubungan dengannya. Termasuk keterlibatan perempuan di dalam  upaya penanggulangan bencana, misalnya upaya preventif melalui kampanye kesiap-siagaan bencana, yang biasa dilakukan melalui berbagai kegiatan kelompok-kelompok perempuan di kampung-kampung, seperti: pengajian, PKK, arisan, dll. Dan juga keterlibatan perempuan dalam proses-proses diskusi dan pengambilan keputusan berbagai masalah penyelesaian dalam penanggulangan bencana di tingkat local / pemerintahan desa. Serta terlebih dari itu semua saat benar benar bencana melanda, bagaimana peran peran yang telah dipersiapkan itu menjadi “peluru-peluru yang siap ditembakkan” terutama untuk mengatasi beberapa persoalan yang muncul di kamp-kamp pengungsian.

Jurnal Perempuan melaporkan ada sejumlah persoalan yang dapat terungkap ketika perempuan harus berada di pengungsian yang terkait dengan posisinya sebagai perempuan. Beberapa kebutuhan khusus itu seperti pembalut perempuan, susu bayi, ketersediaan air bersih, MCK yang tidak aman bagi perempuan dan sebagainya. Perempuan juga tidak terlepas dari persoalan kekerasan, pelecehan seksual dan rentan untuk mengalami perdagangan perempuan.

Dalam proses penanganan bencana hampir seluruh bantuan yang datang merupakan bantuan yang umum seperti mie instan, roti, makanan kering dan sebagainya. Memang sangat diperlukan, tetapi belum bisa memberikan pemenuhan secara khusus pada perempuan. Sejumlah persoalan perempuan dalam situasi bencana, khususnya pemenuhan kebutuah perempuan ini juga terjadi di sejumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia, termasuk pada kejadian bencana Tsunami Mentawai dan Meletusnya Merapi di Yogyakarta.

Pertanyaannya kemudian, mengapa perempuan lebih panjang deritanya dalam situasi bencana/konflik yang seharusnya justru mendapat perhatian khusus?

Tentu saja, persoalan ini muncul tidak terlepas dari posisi perempuan secara umum di Indonesia. Dalam ranah politik, sosial, hukum, tafsir agama dan juga kultur masyarakat, perempuan masih belum dilihat sebagai bagian penting. Posisi ini tentu saja merugikan perempuan, tidak saja dalam kehidupan sehari-hari, namun juga dalam situasi-situasi yang sangat genting.

Persoalan bantuan pengungsi yang tidak menjangkau kebutuhan perempuan misalnya, hal ini karena perempuan dalam proses pendataan kebutuhan tidak dilibatkan. Hampir sebagian besar para pengambil keputusan atau orang-orang yang terlibat dalam penentuan ini adalah laki-laki yang hanya berpikir secara umum tidak memikirkan aspek-aspek yang lebih detail. Kebutuhan pengungsi dianggap sama semua, padahal dalam kenyataanya sangat berbeda antara kebutuhan laki-laki dan perempuan.

Sejumlah persoalan yang terjadi pada perempuan dalam situasi bencana ini tidak terlepas dari pola penanganan bencana dan pasca bencana yang tidak bekerja secara komprehensif. Penanganan bencana selalu mengutamakan aspek-aspek yang dianggap utama dan prioritas, sementara pemahaman utama dan prioritas ini tidak menjadikan perempuan sebagai bagian yang penting dan utama. Akibatnya, kebutuhan perempuan yang secara spesifik tidak tersedia.

Pemahaman komprehensif dalam hal ini adalah bagaimana setiap aspek kebijakan yang akan diambil telah mempertimbangkan aspek kesetaraan gender. Pengarusutamaan gender bukan lagi menjadi bagian terpisah, tetapi menjadi satu dalam satu kerangka analisis perumusan dan pengambilan kebijakan. Jika penanganan bencana ini terbangun secara komprehensif, dalam situasi apapun termasuk dalam situasi darurat, kebutuhan perempuan wajib terpenuhi, tidak perlu harus menunggu sampai beberapa waktu untuk dapat pemenuhan kebutuhannya.

Dalam kerangka inilah, pola penangulangan bencana yang berperspektif perempuan menjadi keharusan karena beberapa sebab. Pertama, perempuan dalam situasi bencana mempunyai beban bertambah dan lebih berat, sehingga jika tidak didukung oleh satu pola/sistem penanganan yang baik akan memperpanjang penderitaan yang dialami perempuan.

Kedua, kebutuhan perempuan secara spesifik yang sangat melekat pada perempuan sejauh ini belum mendapat perhatian, sehingga kebutuhan-kebutuhan itu terabaikan.

Ketiga, paradigma pelaksana penanganan bencana masih belum mempunyai perspektif gender secara baik, sehingga adanya kebijakan pola penanganan bencana yang lebih responsif gender dapat membantu pelaksana penanganan bencana untuk lebih mempertimbangkan keadilan gender.

Pemenuhan hak perempuan sesuai dengan yang diamanatkan UU No.7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan wajib dilakukan negara. Negara harus menjamin pemenuhan hak-hak tersebut, antara lain hak atas kesehatan dan hak untuk terbebas dari segala bentuk diskriminasi.

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian atau landasan pemerintah dalam upaya membangun sistem penanggulangan bencana secara komprehensif (bentuk implementasi dari UU No. 24 Th 2007), yakni pertama; menggunakan perspektif kesetaraan gender; kedua, penanggulangan bencana tidak hanya bersifat responsif; ketiga,pengurangan resiko bencana (adaptasi) lebih baik daripada mengatasi resiko bencana.

Melalui satu kebijakan pola penanganan bencana yang lebih berperspektif perempuan ini diharapkan tidak ada lagi penderitaan panjang perempuan dalam satu situasi bencana. Sejauh ini setiap kali terjadi bencana, selalu saja persoalannya tetap sama, kebutuhan perempuan terabaikan. Akankah hal ini dibiarkan terus berulang? Semoga tidak dan pemerintah harus lebih serius memperhatikan masalah ini.

Ditulis dan disusun dari berbagai sumber oleh : IMAM YUDHIANTO SOETOPO, pemerhati gender dan penanganan bencana, tinggal di Magetan Jawa Timur

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s